Top Menu

Selasa, 29 November 2011

Amar Ma'ruf

Perlu diketahui bersama bahwa salah satu dari amalan yang paling utama , adalah saling menasehati, mengarahkan orang menuju kepada kebaikan dan saling mengingatkan dengan ilmu juga kesabaran, begitu juga memperingati terhadap apa-apa yang menyelisihi perintah Allah itupun termasuk amalan yang paling mulia.
Allah Subhanahuwataala menempatkan ibadah amar ma’ruf  nahi mungkar dalam islam di tempat yang tinggi, sampai-sampai para ulama pun ada yang menjadikan amalan tersebut sebagai rukun keenam dalam islam, Allah Azza Wajalla mengedepankan amar ma’ruf nahi mungkar  daripada keimanan sebagaimana yang tertera dalam firmannya كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آَمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ “Kalian adalah umat  terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik. Diantara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang orang fasiq. (Ali-Imran 110)
Begitu juga dalam surat At-Taubah Allah Azza Wajalla mengedepankan amalan amar maruf nahimungkar dari pada mendirikan solat dan menunaikan zakatوَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“dan orang orang yang beriman lelaki dan perempuan menjadi penolong satu dengan lainnya, mereka menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari kemungkaran , mendirikan solat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan rosul-Nya; mereka itulah yang akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha bijaksana(attaubah 71)
Di pengedepanan amalan ini menjelaskan besarnya urusan kewajiban tersebut, dan  juga menerangkan pentingnya amar makruf nahi mungkar di kalangan individu maupun masyarakat dan juga negeri. Dengan adanya perealisasian amalan tersebut maka akan membuat umat ini menjadi sholih, tersebarnya kebaikan dan hilangnya keburukan ataupun berkurangnya kerusakan.
Begitu juga sebaliknya, dengan hilangnya amar makruf nahi mungkar dalam suatu masyarakat maka akan menimbulkan kerusakan, tersebarnya fitnah, terpecah belahnya ummat, munculnya kepribadian hewani dan mematikan hati.

Dalam kehidupan sehari hari kadang kita merasa cukup membenahi diri sendiri dan cuek bebek terhadap keadaan sekitar, sehingga berpikiran bahwa, sudah cukup untuk kita apabila diri kita solih walaupun keadaan sekitar rusak dan tersebar kemungkaran, ini termasuk paham yang harus diluruskan,  Aisyah.ra pernah bertanya tentang masalah ini kepada Rosulullah “ wahai Rosulullah, apakah kita akan diazab padahal di antara kita banyak orang orang solih?” maka nabi pun menjawab “ Ya, apabila sudah tersebar keburukan”,(HR.Bukhori). Al-Quran pun telah memberi solusi bagaimana cara menjauhkan diri kita dari azab Allah “dan tidaklah Tuhan mu akan menhancurkan sebuah negeri padahal penduduk tersebut membenahi dengan kebaikan” (Hud 117) yang perlu dicatat diayat tersebut menunjukan bahwa : solih saja tidak cukup akan tetapi ynag diperlukan adalah orang yang membenahi dengan kebaikan ( mushlihun).
Di hadist  yang lain rasullah memperingatkan kita “ barang siapa yang melihat kemungkaran maka hendaklah merubah dengan tangannya , jika tidak bisa dengan tangan maka dengan perkataan, apabila tidak bisa maka ubahlah dengan hati , dan pengingkaran dengan hati adalah selemah-lemahnya iman” (HR.Muslim). Keimanan kita akan diragukan apabila ketika kemungkaran terjadi didepan kita dan kita hanya cuek bebek, sampai-sampai Ibnu Taimiah berkata “ Barang siapa yang tidak ada didalam hatinya kebencian terhadap apa yang dibenci oleh Allah dan Rosul-Nya, maka didalam hatinya tidak ada iman yang Allah telah wajibkan kepadanya”
Dan yang membuat kami prihatin adalah ketika ada seseorang yang menegakkan amar makruf dan nahi mungkar di kalangan kita, orang tersebut malah dicemooh dan diberikan gelar orang yang ikut campur atau kurang kerjaan, dalam hal ini  para ulama terdahulu sudah mewanti-wanti dan ulamapun sampai menghukumi bahwa barangsiapa yang mengatakan seseorang yang amar makruf nahi munkar adalah seorang yang ikut campur dan orang yang kurang kerjaan maka dia murtad ( hasiyah Ibnu Abidin) atau paling sedikitnya ditakutkan kepada orang yang berkata tersebut masuk kepada kekufuran (durul mukhtar)
Sungguh indah dan sangat mengena nasihat Luqmanul Hakim kepada anaknya “ Wahai anakku dirikanlah solat, perintahkanlah kebaikan, cegahlah dari yang mungkar dan bersabarlah atas apa yang menimpamu ( Luqman 17)
Maka bersabaarlah wahai ikhwanku karena orang yang beramar makruf nahi mungkar pasti akan mendapatkan cobaan dan cemoohan. 
Mudah mudahan kita semua menjadi orang orang yang dicintai oleh Allah dan Allah mencintai kita, menjadi orang yang membangun umat dan bukan hanya mencemooh masyarakat, dan sabar terhadap musibah yang ada.
Mulai dari sendiri , mulai dari sekarang , mulai dari yang terkecil

Wallahu a’lam bishowab

http://bemiyaman.web.id/

Risalah Teruntuk Tholibul Ilmi

Bismillahirrohmaanirrohiim.
Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam. Sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para shahabat beliau, serta orang-orang yang mengikuti jejak dan menelusuri tuntunanya hingga hari pembalasan.
Wa ba‘du:
Inilah risalah yang saya tujukan kepada saudara saya penuntut ilmu:
Assalamualaikum wa rahmatullah wa barokatuh…
• Wahai penuntut ilmu, inilah ungjapan dan wasiyat, yang saya tulis sebagai peringatan dan nasehat yang tulus untukmu, serta sebagai penunaian tanggung jawabku nanti. Saya memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla semoga risalah ini sampai kepadamu ketika engkau dalam kondisi mendapatkan nikmat, kesejahteraan dan kesehatan.
• Wahai penuntut ilmu, hati-hatilah jangan sampai niat engkau mencari ilmu syar’I demi meraih jabatan atau tujuan duniawi. Karena telah tsabit dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam bahwa beliau bersabda,  “Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba pakaian, celakalah hamba busana, celaka dan amat buruklah ia, dan bila tertusuk duri tidak bisa tercabut lagi…” dst hingga akhir hadits. dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:  “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, Kami penuhi baginya amal usaha mereka di dalamnya dan mereka tidak dirugikan sama sekali.” [QS. Hud: 15]
Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab membuat sebuah bab dalam Kitab At-Tauhid yang berkaitan dengan ayat ini: Bab Termasuk Syirik: Ketika orang Beramal Karena Menginginkan Dunia.
Kemudian, Syaikh Abdurrohman bin Hasan telah menjelaskan bab ini dalam Syarahnya terhadap Kitab At-Tauhid yang berjudul Qurrotu ‘Uyuni `l-Muwahhidin, beliau Rahimahullah berkata: “Contoh dari ini adalah imam-imam masjid, para pengajar, dan mujahidin, yang bekerja dalam rangka memperoleh imbalan dari jihad yang ia lakukan.” Maka, berhati-hatilah dari ini, semoga Alloh memberi aku dan engkau anugerah berupa keikhlasan.
• Wahai pencari ilmu, ketika engkau mencari ilmu, niatkanlah itu untuk menghilangkan kebodohan dari dalam dirimu, sehingga engkau beribadah kepada Allah atas dasar ilmu yang terang. Selanjutnya, niatkan untuk menghilangkan kebodohan dari umat ini, supaya nantinya engkau ajarkan kepada mereka agama Allah ‘Azza wa Jalla.
• Wahai penuntut ilmu, ketahuilah, menghafal Al-Quran memang berpahala dan merupakan satu keutamaan. Akan tetapi, mengamalkannya adalah kewajiban yang harus engkau laksanakan. Sesungguhnya kami melihat beberapa kaum di zaman sekarang, yang menganggap menghafal Al-Quran adalah kewajiban, sementara mengamalkannya adalah keutamaan. Maka, hindarilah sikap seperti ini. Sesungguhnya orang-orang seperti ini telah menihilkan banyak sekali nash-nash syar‘i. Aku ingatkan engkau dengan perkataan seorang shahabat Radiyallahu ‘anhu yang mengatakan:
“Kami belajar 10 ayat dari Al-Quran, kami tidak melewatinya sebelum kami memahami dan mengamalkannya.” Sungguh, beruntunglah para shahabat.
• Wahai penuntut ilmu: Hindarilah, sekali lagi hindarilah, hindari betul sikap taklid. Sebab taklid adalah penyakit yang mematikan. Berpeganglah kepada Al-Quran dan sunnah serta pemahaman salafus sholeh, meskipun manusia tidak menerimamu.
Imam Syafi‘i Rahimahullah berkata,
“Para ulama, baik salaf maupun kholaf, sepakat bahwa siapa yang telah mengetahui dengan jelas sebuah sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, maka ia tidak boleh meninggalkannya lantaran perkataan seseorang.”
• Wahai penuntut ilmu, hindarilah sifat mengkultuskan para tokoh atau mengagung-agungkan mereka. Hendaknya pengagungan terhadap Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya lebih engkau dahulukan daripada orang lain, siapapun dia. Jangan terlalu terpaku dengan nama dan sebutan-sebutan.
• Wahai penuntut ilmu, jauhilah sifat ‘ujub terhadap diri sendiri dan ghurur (besar hati). Sebab itu adalah biang kebinasaan orang-orang sholeh.
• Wahai penuntut ilmu, ketahuilah, tugas paling penting dan kewajiban paling besar adalah tauhid. Maka konsentrasikanlah sebagian besar perhatianmu kepada urusan ini. Pelajari tauhid, baik secara ilmu, amal, dan dakwah. Sebab sebagian besar dakwah panutanmu –Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam— adalah untuk urusan tauhid.
• Wahai penuntut ilmu, bersikap jujurlah kepada saudara-saudaramu sesama pencari ilmu. Sesungguhnya aku telah menyaksikan ada beberapa orang penuntut ilmu yang sudah terbiasa berdusta dan terkenal suka menipu. Kami melihat mereka menghadapi suatu kaum dengan satu wajah, kemudian menghadapi kaum lain dengan wajah yang lain. Mereka mengatakan suatu perkataan kepadamu, lalu mengatakan kepada saudara-saudaramu yang lain dengan perkataan yang berbeda. Di sini ia mendukung, di sana ia mengingkari. Maka, hindarilah mereka, jangan bermajelis dengan mereka, sebab teman duduk itu akan berpengaruh terhadap dirimu.
• Wahai penuntut ilmu, sesungguhnya medan-medan jihad kehilangan orang sepertimu, kamp-kamp tadrib mencari-cari orang macam dirimu. Lantas, di manakah engkau? Kenapa tidak membela orang-orang tertindas?
• Wahai penuntut ilmu, sesungguhnya orang-orang di sekelilingmu melihatmu sebagai tauladan. Maka jangan sampai sikap dudukmu menjadi penghambat mereka untuk berangkat berjihad.
• Wahai penuntut ilmu, hati-hati, janganlah engkau mengemukakan berbagai alasan untuk tidak berjihad yang itu tidak diterima, di mana kalaulah alasan itu diajukan oleh shahabat Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam juga tidak diterima. Bersikap jujurlah engkau, sesungguhnya Allah senantiasa mengawasimu dan mengetahui hal-hal yang tersembunyi.
• Wahai penuntut ilmu, di manakah engkau dari firman Allah ‘Azza wa Jalla:
“Hai orang-orang yang beriman, mengapakah apabila dikatakan kepada kalian: Berangkatlah berperang di jalan Allah, kalian malah merasa berat dan condong ke bumi? Apakah engkau lebih suka kehidupan dunia daripada akhirat? Tidaklah kehidupan dunia dibandingkan akhirat itu kecuali sedikit saja. Jika kalian tidak keluar berperang, Allah akan mengazab kalian dengan azab yang pedih serta mengganti kalian dengan kaum yang lain, dan kalian sama sekali tidak bisa membahayakan mereka. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-Taubah: 38-39)
Dan firman Allah Subhanahu wa ta’ala:
“Keluarlah berperang, baik dalam keadaan ringan ataupun berat, dan berjihadlah di jalan Allah dengan harta dan nyawa kalian. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.” (QS. At-Taubah: 41)
• Wahai penuntut ilmu, ketahuilah bahwa keberanian memiliki andil yang besar ketika itu adalah pada diri orang yang berilmu. Maka, jadilah orang yang berani menyatakan kebenaran apa adanya, jangan berkompromi dengan siapapun. Ketahuilah –semoga Allah Subhanahu wa ta’ala senantiasa menjagamu dari apa saja yang tidak menyenangkan—bahwa sekedar menyembunyikan kebenaran dan diam tidak menyampaikannya merupakan perbuatan yang pelakunya mendapat ancaman di sisi Allah. Bahkan ia divonis mendapatkan laknat, La Haula wa La quwwata illaa bil-Lah. Lantas, bagaimanakah dengan orang yang mengucapkan kebatilan?
Dan aku ingatkan engkau dengan firman Allah Subhanahu wa ta’ala:
“Dan ingatlah ketika Alloh mengambil janji dari orang-orang yang diberi kitab: Hendaklah kalian menyampaikannya kepada manusia dan jangan menyembunyikannya. Lantas mereka membuang janji tersebut dan menukarnya dengan harga yang sedikit. Sungguh, teramat buruklah apa yang mereka beli itu.” (QS. Ali Imron: 187)
Kami telah menyaksikan sendiri, orang-orang yang Allah anugerahi ilmu dan hafalan, dan terkenal di kalangan manusia, tetapi mereka terjangkiti sifat pengecut, lemah nyali, dan penakut. Lantas, apa gunanya ilmu jika tidak diamalkan, padahal banyak sekali orang telah tersesat? Sungguh benarlah apa yang disabdakan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam:
“Sesuatu yang paling kukhawatirkan menimpa kalian adalah, imam-imam yang menyesatkan.”

• Wahai penuntut ilmu, janganlah engkau masuk ke tempat para penguasa. Sebab terdapat hadits shohih dari Nabi kita Shalallahu ‘alaihi wa salam, bahwa beliau bersabda,
“Barangsiapa masuk ke penguasa, maka ia telah tertimpa fitnah.”
Menurutmu, wahai penuntut ilmu, bagaimana kalau penguasa itu adalah thoghut yang bengis dan mengendalikan manusia dengan kekuatan, menjauhi syariat Allah, dan membantu orang-orang Kristen dalam memerangi kaum muslimin di mana-mana? Mereka juga menjadikan undang-undang buatan manusia sebagai hukum yang berlaku pada leher-leher manusia serta menghapuskan hukum hudud… dan masih banyak lagi perbuatan murtad dan zindiq lain yang mereka lakukan.
Maka, waspadailah mereka. Waspadailah orang yang duduk dengan mereka, baik dari kalangan ulama dan para pejabat-pejabat penguasa, yang telah menajisi ilmunya dengan duduk bersama musuh-musuh Allah. Bahkan ikut serta dengan mereka dalam mengkaburkan berbagai fakta, menyesatkan rakyat dan menghias-hias kebatilan.
• Wahai penuntut ilmu, jangan jadi orang-orang yang memperhatikan urusan para pemuda dalam halaqoh-halaqoh, acara-acara liburan, mukhoyyam (camping), atau dauroh-dauroh, tetapi kemudian meracuni pemikiran mereka sehingga mereka tidak mau pergi berjihad di jalan Allah, atau mengakibatkan mereka tidak mau mengatakan kebenaran lantaran suatu alasan atau alasan lain, atau mengakibatkan mereka tidak menyebut orang dzalim: “Hai Dzalim,” atau orang kafir: “Hai kafir.”
Aku nasehati engkau, jika engkau termasuk ketua sekelompok pemuda, kobarkanlah semangat mereka untuk berperang. Baik di sini atau di mana saja. Terangkanlah Islam apa adanya, lalu jelaskan mengapa bisa begitu. Kalau engkau tidak mampu seperti ini, berikan kesempatan orang lain untuk menempati posisimu dan jangan menjadi orang-orang mukhodzil (pelemah semangat) tanpa engkau sadari. Demi Allah, engkau mati dengan mempertanggung jawabkan dirimu sendiri, itu lebih baik daripada engkau mati tetapi akan dimintai pertanggung jawaban tentang para pemuda Islam di hadapan Allah kelak. Baik karena mengkaburkan kebenaran kepada mereka, atau menghalangi mereka dari berjihad. Wa la haula wa la quwwata illa billah.
Aku ingatkan engkau dengan sikap dari suri tauladanmu, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam, ketika beliau bertawaf di Ka‘bah sendirian, ketika beliau masih dalam kondisi lemah, ketika kaum musyrikin mengejek dan mengolok-olok beliau, beliau mengatakan:
“Wahai orang-orang Quraisy, sungguh aku datang kepada kalian dengan sembelih,” Kisah ini ada dalam Musnad Imam Ahmad.
• Wahai penuntut ilmu, secara ringkas saya tegaskan kepadamu: Jika engkau benar-benar meneladani Nabimu, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam, dalam setiap hal, engkau terus terang di dalam melakukan dan menerangkannya, maka pasti engkau akan diuji dengan bala’. Bala’ itu turun sesuai dengan kadar keimanan sebagaimana hal itu diberitakan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Apakah manusia mengira akan dibiarkan begitu saja mengatakan: Kami beriman, sementara mereka tidak diuji.” [QS. Al-Ankabut: 2]
Ketahuilah, suatu saat nanti engkau akan dijauhi oleh para penuntut ilmu yang lain, oleh para ulama dan tokoh-tokoh penguasa. Engkau akan dikucilkan, dicaci dan dicela. Engkau akan dikatakan sebagai Khowarij, dan kata-kata semisal yang hari ini dituduhkan kepada para da’I Tauhid yang tertindas. Kalau engkau mengalaminya, bersabarlah. Sesungguhnya dalam kesusahan ada kemudahan, sesungguhnya dalam kesusahan ada kemudahan.
• Wahai penuntut ilmu, waspadailah para Du’at mengajak hidup berdampingan bersama orang-orang kafir. Hati-hatilah terhadap mereka yang mematahkan semangat Jihad lagi kalah di hadapan musuh-musuh Allah. Hati-hatilah dengan mereka. Jangan terpedaya dengan kata-kata manis bercampur racun mematikan yang mereka lontarkan, jangan terpedaya dengan materi-materi pelajaran yang mereka sampaikan, jangan terpedaya dengan orang-orang yang hadir dalam majelis mereka. Hati-hatilah terhadap mereka, sebab minimal kita harus sikapi mereka sebagaimana kita bersikap terhadap ahli bid‘ah. Para salafus sholeh kita telah mengingatkan kita agar menjauhi ahli bid‘ah. Sebagai contoh, bacalah kitab Al-Bida‘ tulisan Ibnu Widhoh.
• Wahai penuntut ilmu, camkan selalu pandanganmu kepada kitab Rabb kita dan terhadap sunnah Nabi kita Shalallahu ‘alaihi wa salam, renungkanlah dengan baik. Sebab dalam keduanya terdapat banyak kebaikan.
• Wahai penuntut ilmu, berusahalah sebisa mungkin untuk mendialogkan berbagai permasalahan dengan ikhwan-ikhwanmu yang lain. Sebab sesungguhnya kemantaban dalam menguasai berbagai persoalan adalah dengan berdialog.
• Wahai penuntut ilmu, tetapkanlah waktu yang engkau khususkan untuk menyendiri dengan Rabbmu, yang di sana engkau membaca kalam-Nya, bermunajat dan berdoa kepada-Nya. Karena doa termasuk ibadah terbesar, sebagaimana terdapat dalam sebuah riwayat shohih dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam,
“Doa adalah ibadah itu sendiri.”
• Wahai penuntut ilmu, jauhilah ulama suu’, janganlah bermajelis atau berhalaqoh bersama mereka. Karena mereka adalah orang-orang jahat dan sesat. Mereka mengkaburkan agama Islam di hadapan kaum muslimin, Mereka juga menyesatkan masyarakat, dan ikut serta bersama para penguasa [thoghut] dalam menjual tanah air dan tempat suci kaum muslimin.
Ini dia Al-Quds , semenjak 50 tahun lebih berada dalam cengkraman yahudi, apakah yang telah diperbuat para ulama penguasa tersebut? Lihat itu Hai’atu Kibaril Ulama atau Al-Lajnah Ad-Daimah, siapakah yang mendirikannya, siapakah yang memilih dan mengangkat mereka? Sesungguhnya Mereka adalah para penguasa pengkhianat.
• Wahai penuntut ilmu, para ulama yang banyak dijadikan rujukan oleh para pemuda itu, ada yang terang-terangan mengatakan bahwasanya tidak ada permusuhan antara kaum muslimin dengan umat yang lain. Ada juga yang pindah ke negeri orang-orang nashrani untuk mempersatukan anggota parlemen dan di sana disambut oleh wanita-wanita pelacur Eropa, seolah tak terjadi apa-apa. Yang lain berkata: andai orang-orang pergi berjihad maka siapa yang tinggal dan yang menjaga toko-toko. Ada yang lancang bersumpah atas nama Allah ‘Azza wa Jalla seraya berkata: Bahwa siapa yang terbunuh di Afghanistan, tapi ia ke sana tanpa seizin waliyyul khamri –maksudnya pemerintah yang membolehkan beredarnya khomer—, maka ia bukan syahid. Sedangkan Pemimpin dan sesepuh mereka [ mufti saudi-pen] mengatakan bahwa Amerika adalah orang-orang yang tak berdosa. Yang lain mengatakan, mendonor darah kepada orang-orang Amerika adalah boleh hukumnya. Dan yang lain… dan yang lain… dst…
Ulama lain, ada yang berlomba-lomba berpose bersama para thoghut setiap pekan.
Sungguh, kami telah mendatangi mereka senior-senior mereka yang juga ulama besar, kami nasehati mereka, kami ajak dialog dan kami berbincang-bincang dengan mereka. Akan tetapi, la haula wa la quwwata illa billah, tidak ada faedahnya.
Oleh karena itu, wahai penuntut ilmu, aku bertanya kepadamu atas nama Allah, apakah ini keadaan ulama Islam, atau ini adalah keadaan para boneka thoghut dan para penjilat penguasa???
Terakhir kalinya, aku memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menjadikan kalimat-kalimat ini tadi bermanfaat bagi pembacanya, serta menjadikannya diterima di bumi. Aku juga memohon kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, agar menganugerahi dirimu ilmu yang terang dan kemampuan untuk mengamalkannya, semoga engkau diberkahi selalu di manapun engkau berada dan Allah menjadikanmu termasuk golongan orang yang menyuarakan Al-Haq.
Sebagai penutup, aku memohon agar Allah memberiku kesyahidan, yang dengan itu Dia akan ridho dan tertawa kepada kita. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa, Mahapemurah dan Mahadermawan. Dan doa terakhir kami, Anil hamdulillahi Rabbil ‘Alamin, segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam.


http://bemiyaman.web.id/

Berburu Barokah Ilmu

Kita semua telah mengetahui bersama bahwa menuntut ilmu adalah termasuk bagian dari ibadah, sampai- sampai para ulama mengatakan bahwa ” ilmu itu adalah dzikir yang tersembunyi dan ibadahnya hati”
Kita sebagai tholibul ilmu syar’i pasti sudah mengetahui betapa pentingnya menuntut ilmu, betapa membutuhkannya umat terhadap ilmu dan betapa besar pahala sang penuntut ilmu. Namun terkadang karena godaan dari dalam hati ataupun godaan dari syaitan, kita sering melalaikan tugas sebagai tholibul ilmi, atau bahkan kita merasa sudah melaksanakan perintah menuntut ilmu dengan baik, namun kadang amal mulia kita ini tercoreng dengan mengahalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai sempurna di ijasah, dengan cara menyontek ketika ujian semester Allah musta’an.
Seakan-akan dengan kita membawa ijasah mumtaz hasil contekan akan mengangkat derajat kita didepan masyarakat nanti, penyebutan sang pembawa acara diseminar yang kita isi dengan “Ustadz. Fulan bin Fulan. Lc., MA. lulusan Universitas Al-Iman lulus dengan derajat summa cumlaude”, akan menambah catatan pahala kita di Akhirat kelak, hingga akhirnya menghalalkan segala cara demi mendapatkan nilai yang tertulis diatas kertas!!!.
Sahabat Ali bin Abi Tholib RA berkata : “Sungguh celaka orang yang bodoh tapi sok ahli ibadah dan orang ahli ilmu yg sering melanggar syari’at Allah“.(Ihya ulumudin; imam ghozali)
Ingat akhi fillah!, sebuah ibadah tidak akan diterima ketika didalam amalnya dicampuri oleh niat kepada selain Allah SWT, ataupun tidak sesuai dengan syari’at.
Mari, sudah saatnya kita kembali berkaca diri, menata kembali niat kita, kembali bertanya kepada hati masing-masing untuk apa kita belajar ilmu agama?.
Imam Ahmad mengatakan bahwa : “Menuntut ilmu tidak bisa dibandingkan dengan apapun, jika seseorang tersebut berniat untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan juga menghilangkan kebodohan orang lain”.(hilyah tholib ilmi; bakr abu zaid).
Jadikanlah ujian semester ini sebagai tolak ukur dan wasilah kita dalam menuntut ilmu, bukan kita jadikan ujian semester sebagai tujuan utama dari belajar hingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai sempurna.
Sebuah qoidah fiqhiah yang masyhur telah mengingatkan kita (( الغاية لا تبرر الوسيلة Sebuah tujuan tidak boleh membuat orang menghalalkan segala cara (qoidah fiqhiah abdul karim zaidan),
Dan Sebuah hadist yang seharusnya yang selalu menjadi pegangan seorang muslim “Barang siapa yang menipu maka dia bukan dari golongan kami”. )HR muslim)
Juga ayat Al-Qur’an yang setiap hari kita baca : ”yang meminta dan yang diminta sama sama lemah”. (Q.S. Al-Hajj :73)
Setiap ujian yang datang kepada kita sudah seharusnyalah kita meminta pertolongan kepada Allah dan dibarengi dengan ikhtiar dari diri kita, Ingat!!! Allah subhana wataala tidak pernah memberikan sebuah kewajiban melebihi kemampuan kita.
Allah subhanawataala di dalam Al-Qur’an sering menggabungkan lafadz yang esensinya adalah antara berusaha dalam melaksanakan perintah dan tetap bertawakal juga meminta pertolongan kepada Nya, “hanya kepada kamulah kami beribadah dan hanya kepada kamu lah kami meminta pertolongan“. (Q.S. Al-Fatihah : 5). “maka beribadahlah kepadaNya dan bertawakallah kepadanya (Q.S. Hud : 123), “ hanya kepada-Nya lah aku bertawakal dan hanya kepadanyalah aku kembali “. (Q.S. Asyura : 10).

Maka barang siapa yang selalu menjaga perintah Allah dan tetap bertawakal maka dia termasuk orang orang yang diberikan nikmat oleh Allah bersama para Nabi, orang-orang yang membenarkan, para syuhada dan juga orang-orang solih. (tadmuriah; ibn taimaiah).
Dan yang terahir. Kami disini sama sekali tidak ingin menuduh bahwa diantara kita ada yang melakukan perbuatan tercela tersebut, kami hanya ingin mengingatkan kembali tentang pentingnya sebuah kesucian niat dalam menuntut ilmu, mudah mudahan dengan dimudahkannya kita diujian semester kali ini, kita juga akan diberi kemudahan ketika ujian di akherat kelak. Amin ya robbal alamin...

“Dan berkaryalah maka Allah akan melihat karyamu , begitu juga rosulmu dan orang orang mukmin , dan karyamu tersebut akan di kembalikan kepada sang maha mengetahui yg ghaib dan yang nyata”. (Q.S. Attaubah 105)

www.bemiyaman.web.id

Bersikap Adil

Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah mengatakan : ”Bahwasnya sebuah bantahan yang hanya berdasarkan makian dan cemoohan tidak akan membuat seorangpun yang dibantah menjadi lemah, seandainya seseorang berdialog dengan orang musyrik ataupun ahlul kitab, maka diharuskan baginya untuk menjelaskan hujjah yang membuat jelas bahwa kebenaran ada pada dirinya dan kebathilan ada pada mereka”. Majmu' fatawa 4/186

Ibnu Qoyyim menambahkan : ” Sjak kapan penipuan dan cemoohan dan kebohongan diterima oleh suatu ajaran agama?! dalam syariat siapa?!, Dalam politik mana?!. (I’lam muwaqiin)

Ibnu Wazir berkata : “ Bahwasannya sudah menjadi kebiasaan para ahli ilmu, orang-orang besar, ahlul islam baik salaf maupun kholaf, ahli bid'ah, ahli kalam, mereka seluruhnya menisbahkan perkataan seseorang tanpa ada tambahan cemoohan hinaan, aniaya, ataupun tekanan, lidah mereka bersih dari menjelek-jelekan orang bodoh, buku-buku karya mereka bersih dan bebas dari apa-apa yang menujukan mereka tidak bersikap adil dan tidak objektif, karena mereka mengetahui bahwa membodoh-bodohi seseorang tidak akan menghasilkan apapun, seperti yang difirmankan oleh Allah : “ Allah tidak menyukai ucapan buruk yang diucapkan terus terang kecuali orang yang teraniaya". Q.S. Al-Maidah : 148. (Al -‘Awasim wal qowasim)

Musibah yang sedang terjadi sekarang ini adalah tersebar luasnya cemoohan pelecehan, dan penyematan laqob-laqob jelek, padahal perbuatan seperti itu tidak dilakukan kecuali oleh orang-orang yang tidak mempunyai hujjah yang kuat dan tidak mampu berdiskusi.

Syeikh Ustaimin mengatakan : “ Memberi laqob jelek bukan lah dari kebiasaan para ulama dan bukanlah termasuk adab mereka, seandainya anda punya ilmu, anda boleh membantah. Seandainya anda tidak punya ilmu, tidak usah membantah. Kebenaran tetap akan datang tanpa anda menyertai bantahan anda dengan pelecehan dan pemberian laqob jelek…. Anda cukup ngatakan “ pendapat ini lemah, dan pendapat yang benar adalah begini, selesai perkara”.(Syarh siyasah syar’iyyah)

Allah subhanahu wa taala berfirman : ” Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran, karena Allah menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil, berlaku adil lah kamu. Karena adil itu lebih dekat kepada ketaqwaan”. QS. Al-Maidah : 8
Imam Qurtubi mengatakan : “ ayat ini menunjukan bahwa kekufuran seorang yg kafir tidak menghalanginya untuk tetap mendapatkan keadilan. (Jami' ahkam quraan). Apabila Islam melarang kita untuk tetap berbuat adil terhadap orang-orang kafir, maka sudah semestinya kita harus tetap bersikap adil terhadap orang-orang yang fasik, orang yang berbeda pendapat dengan kita, ataupun orang yang kita anggap bid'ah.

Mari sama-sama kita jaga lisan kita dari cacian terhadap orang yang berbeda pendapat dengan kita dan selalu bersikap adil kepada siapapun dan terus menjaga semangat kita dalam menuntut ilmu dan berdakwah, hingga Allah memberi cahaya hidayah kepada kita.

Ketika kita mendapatkan perbedaan pendapat diantara ulama, maka wajib untuk mencari dalil dari Al-Qur^an , as-sunnah, ijma' dan qiyas, apabila dalil-dalil tersebut sama kuatnya, maka diharuskan untuk lebih memilih yang paling dekat dari apa-apa yang disebutkan dari Al-Kitab dan As-Sunnah, apabila tidak terlihat jelas mana yang lebih dekat, diharuskan baginya untuk tawaquff (berhenti menghukumi perkara tersebut) dan tidak boleh menetapkan kecuali dengan keyakinan. -Ibnu Abdil Barr- .(Jami bayanul ilm1/80)

Ada sebuah buku yang menurut kami bagus untuk dibaca bagi mereka yang berkecimpung dalam dakwah, dan cukup memberikan kejelasan dalam perbedaan-perbedaan yang terjadi dalam medan dakwah, sebuah buku karangan Dr. Solah Showi yang berjudul “atsawabit wal mutaghoyirot” (perkara perkara yang tetap, dan perkara perkara yang bisa berubah- terjemahan bebas-)

Waallaahu a’lam

www.bemiyaman.web.id

Karoke

“Wahai yang maha membolakbalikan hati, tetapkanlah hati ini pada ketaatanmu, tetapkanlah hati ini pada agamamu”. Berat sekali tangan ini untuk menulis suatu nasehat dengan hadirnya berbagai pertanyaan tentang judul ini atas kesesuaian apa yang saya tulis dan apa yang saya lakukan, ya… saya akui saya bukanlah orang yang luput dari kesalahan, luput dari maksiat, luput dari mengamalkan ilmu, luput dari penyakit hati dan luput dari segala dosa lainnya, kita memohon semoga Allah Subhanahu wata'ala senantiasa selalu mengampuni dosa-dosa saya dan saudaraku mahasiswa Indonesia di Universitas Al-Iman sekalian.
Dari Nawas bin Sam’an, dari Nabi Sallahu'alaihiwasalam, beliau berkata : “ Al-birru (kebajikkan) adalah akhlaq  yang baik, dan dosa adalah apa-apa yang membuat hatimu tidak tenang dan kamu tidak suka jika dosa itu terlihat oleh manusia”. (HR. Muslim) Dalam syarh hilyah tolabul ilmi, menukil perkataan Imam Ahmad berkata : Pondasi ilmu adalah khosyah (takut) kepada Allah, dan khosyah kepada Allah adalah takut kepada Allah berlandaskan ilmu dan pengagungngan, karena itu Allah Subhanahu wata'ala berfirman : “…Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-Nya adalah para ulama…”. (QS. Fatir 28).
Perlombaan-perlombaan menyambut tujuh belas Agustus mendorong kita untuk selalu mengikuti dengan berbagai maksud, ada yang ingin berolahraga saja plus Alhamdulillah kalau menang, atau ada yang sekedar ingin makan saja, atau sekedar silaturahmi saja bertemu dengan teman-teman, bapak-bapak KBRI, Ibu-ibu Darmawanita dan lain-lain sebagai ajang pendekatan. Lepas dari itu semua, perlombaan-perlombaan yang diselenggarakan KBRI tak ayal kita sebagai mahasiswa Universitas Al-Iman yang notabenenya adalah mahasiswa syari’ah di Universitas yang kental dengan amar ma’ruf nahi mungkar  yang dikaderkan sebagai du’at tentu sudah bisa memilih dan merasakan mana yang baik dari perlombaan itu dan mana perlombaan yang bisa mengurangi kehormatan kita sebagai penuntut ilmu syari’ah. Ya mungkin ikhwah fillah sudah mengetahui kemana arah pembicaraan saya.
Lomba karauke… ya lomba karauke, saya di sini tidak menguraikan hukum boleh tidaknya mendengarkan musik, bagi yang membolehkanpun sebenarnya harus mengetahui dan mengikuti syarat ketat ulama yang membolehkannya seperti Syaikh Yusuf Qordowi yang ketat dalam syair lagu, serta Abdullah Ibnu Yusuf Al-Juda’i dalam bukunya “Al-Musiqi wal-Ghina’ fi Mizanil Islam” setebal 635 halaman membahas detail tentang permasalahan ini, untuk mengambil maslahah mu’tabaroh dalam mendengarkan music, dll. Namun di sini saya akan berbicara almamater kita Universitas Al-Iman yang kita menuntut ilmu syari’ah bukan sekedar ilmu namun mengamalkan ilmunya. Secara sadar ikhwah fillah beberapa teman kita yang mengikuti perlombaan karauke, akan merasakan kerisihan dalam hati,  perang dalam hati antara berpartisipasi atau tidak, (sayapun yang hanya menyaksikan sebentar merasakan demikian dan semoga semua rekan-rekan mahasiswa Al-Imanpun demikian), itu dikarenakan Allah Subhanahu wata'ala memberikannya ilmu yang melahirkan khosyah (takut), ilmu yang ia dapat serta lembaga tempat ia belajar juga pergaulannya dengan teman-teman yang shalih  memberatkan mereka untuk melakukan hal-hal yang mengurangi kehormatan diri mereka sebagai penuntut ilmu syari’ah. Ya walaupun di Yaman adalah rata-rata orang asing, sebagai penuntut ilmu syari’ah namun kita mempunyai lembaga pendidikan Universitas Al-Iman, Universitas yang didanai oleh para muhsinin mukhlisin  agar para alumninya bisa menebarkan dakwah dan mengamalkan ilmunya dimasyarakat, namun kita rasanya telah menyalahi amanah mereka yang diberikan kepada  kita berupa fasilitas-fasilitas gratis, kita tidak sadar perbuatan kita telah mencoreng nama baik Unviersitas Al-Iman dimata para penuntut ilmu syari’ah lainnya (khususnya Mahasiswa/Pelajar Indonesia) baik ma’rib, ma’bar, markaz dakwah dll. Perilaku individu yang membawa pukul rata seluruh mahasiswa Universitas Al-Iman dan membuktikan mereka akan tidak baiknya pendidikan dan tarbiyah di Universitas Al-Iman, na’uzdubillah jika dikatakan  Universitas Al-Iman bukan ahlu sunnah waljama’ah.
Dan pasti di antara kita akan ada yang berkata, saya karauke dengan lagu nasyid, sebagian yang lain laa… nanti diacara tujuh belas Agustus banyak yang hadir pasti medengar musik baik itu dari ma’rib maupun markaz dakwah, dan tim nasyid Al-Iman juga berpartisipasi dalam mengisi acara yang bercampur di dalamnya ada lagu bukan nasyid, apa bedanya saya ikut lomba dan mereka yang berpartisipasi dalam acara ….. masalah ini silahkan anda, kita dan teman-teman anda yang menilai, manakah yang lebih besar pengaruhnya dalam mencoreng keilmuan Universitas Al-Iman, disini tidak hanya ikut perlombaan karauke tapi juga mereka yang merokok, berpacaran, video porno dan maksiat lainnya. Ikhwah fillah ( perbuatan yang mengurangi kehormatan penuntut ilmu yang dilakukan (terlepas pelanggaran non syariat) individu mahasiswa Al-Iman tentu bisa menyamaratakan seluruh mahasiswa Al-Iman sendiri, untuk itu kita harus berpikir akan perbuatan kita apakah akan mencoreng nama keilmuan Universitas Al-Iman ataukah tidak?, namun semoga kita meninggalkannya bukan karena Universitas Al-Iman melainkan karena khosyah kepada Allah Subhanahu wata'ala. Usikum wanafsi bittaqwallah,,, wallahu’alam bishowab.

www.bemiyaman.web.id

Bulan Ramadhan

Bulan ramadhan yang penuh berkah telah hadir dihadapan kita, seperti biasa masjid-masjidpun akan dipenuhi oleh masyarakat, diisi oleh berbagai kegiatan , dari sholat tarawih, tausiah ataupun khataman al-qur’an. Disini kami ingin sedikit menjelaskan perkataan-perkataan  yang biasa disampaikan oleh para penceramah dan menisbatkan perkataan ini kepada Nabi Muhammad SAW , tanpa memperhatikan benar tidaknya penisbatan tersebut.
Berikut hadist yang dinilai oleh para ulama ahli hadist lemah ataupun tidak ada asalnya dari nabi , yang mudah-mudahan dengan ini kita bisa sedikit menyaring dan tidak semberono dalam menyebarkan perkataan yang dikira hadist, sebagaimana yang Nabi pesankan kepada kita,  " cukuplah orang itu dianggap berdusta, ketika mengatakan apa yang dia dengar". (HR. Muslim). Hadist Pertama :
خطبنا رسول الله صلى الله عليه و سلم في آخر يوم من شعبان فقال : أيها الناس قد أظلكم شهر عظيم شهر مبارك شهر فيه ليلة خير من ألف شهر جعل الله صيامه فريضة و قيام ليله تطوعا من تقرب فيه بخصلة من الخير كان كمن أدى فريضة فيما سواه و من أدى فيه فريضة كان كمن أدى سبعين فريضة فيما سواه وهو شهر الصبر و الصبر ثوابه الجنة و شهر المواساة و شهر يزداد فيه رزق المؤمن من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه و عتق رقبته من النار و كان له مثل أجره من غير أن ينتقص من أجره شيء قالوا ليس كلنا نجد ما يفطر الصائم فقال : يعطي الله هذا الثواب من فطر صائما على تمرة أو شربة ماء أو مذقة لبن و هو شهر أوله رحمة و أوسطه مغفرة و آخره عتق من النار من خفف عن مملوكه غفر الله له و أعتقه من النار و استكثروا فيه من أربع خصال : خصلتين ترضون بهما ربكم و خصلتين لا غنى بكم عنهما فأما الخصلتان اللتان ترضون بهما ربكم فشهادة أن لا إله إلا الله و تستغفرونه و أما اللتان لا غنى بكم عنهما فتسألون الله الجنة و تعوذون به من النار و من أشبع فيه صائما سقاه الله من حوضي شربة لا يظمأ حتى يدخل الجنة
قال الأعظمي : إسناده ضعيف علي بن زيد بن جدعان ضعيف
Rosulullah shalallahu alaihi wassalam berkhutbah dihadapan kita di akhir bulan sya’ban : " wahai para manusia telah datang kepada kalian bulan yang besar bulan yang barokah bulan yang didalamnya lebih baik dari 1000 bulan , yang mana Allah jadikan puasanya faridhoh dan sholat malamnya sebagai sunnah, barang siapa yang mendekatkan diri dibulan tersebut dengan suatu kebaikan , maka seperti  orang yang mengerjakan kewajiban dibulan selain romadhon, dan barang siapa yang mengerjakan kebaikan dibulan tersebut, maka seperti orang  yang mengerjakan 70 kewajiban dibulan selainnya, dan bulan romadhon adalah bulan kesabaran, dan kesabaran pahalanya adalah surga dan bulan ……. dan bulan ditambahkannya rizqi orang mukmin, barang siapa yang memberi  buka orang puasa , maka akan mendapat ampunan bagi dosa-dosanya, dan menyelamatkan dirinya dari  siksa neraka, dan orang tersebut mendapatkan pahala puasa orang yang diberi makan tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu, para sahabat berkata : " tidak semua dari kita bisa memberikan buka puasa bagi orang yang puasa " Nabi menjawab : " Allah memberi pahala ini bagi siapa saja yang memberi buka  puasa  (walau dengan) sebiji kurma, segelas air atau seteguk susu, dan ramadhan  ini adalah bulan yang awalnya adalah rahmat, ditengahnya adalah pengampunan dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka, barangsiapa yang meringankan pekerjaan budaknya maka Allah akan mengampuninya dan membebaskannya dari azab neraka , dan perbanyaklah 4  amalan : …………. : " 1. Syahadat La ilaha illallah, 2. Memohon ampunan kepadanya, 3. Memohon kepada Allah dimasukkan kedalam surganya, 4. Memohon perlindungan kepada Allah dari azab nerakanya, barang siapa yang mengenyangkan orang yang berpuasa maka Allah akan memberinya minum dari air telaga, (yang apabila sudah meminumnya) maka tidak akan pernah merasa haus hingga ia masuk surga " . (HR. Ibnu Khuzaimah)
Al-‘Adhomi  mengatakan :  " Sanadnya lemah, didalamnya terdapat rowi  bernama Ali bin Zaid bin Jad’an, lemah ”.
Syaikh Al-Albani mengatakan : hadist mungkar, didalam sanadnya terdapat kelemahan  disebabkan terdapat rowi  bernama Ali bin Zaid bin Jad’an , dilemahkan oleh Ahmad dan yang lainnya, Ibnu Khuzaimah mengatakan : " saya tidak menjadikannya hujjah, karena jelek hafalannya". 
Hadist Kedua :
نوم الصائم عبادة وصمته تسبيح وعمله مضاعف ودعاؤه مستجاب وذنبه مغفور 
“ Tidurnya orang puasa adalah ibadah, diamnya tasbih, amalnya dilipatgandakan, do’anya mustajab dan dosanya diampuni”. (diriwayatkan oleh Baihaqi dan dia melemahkannya)
Didalam sanadnya terdapat Ma'ruf bin Hisan (lemah) dan Sulaiman bin Amru An-Nakho-i (lebih lemah dari Maruf bin Hisan).
Syaikh Al-Albani berpendapat bahwa hadist ini : " palsu".
Bukan berarti kita tidak diperbolehkan tidur dibulan ramadhon, karena asal dari tidur sendiri adalah  mubah (diperbolehkan). Menurut Ibnu Hajar bahwa sesuatu yang mubah akan diberi ganjaran apabila dengan niat sebagai wasilah untuk menuju kepada kewajiban atau sunnah (fathulbari 14/277), contohnya apabila kita tidur dengan niat agar sholat tahajudnya  nanti menjadi kuat. Seperti perkataan Mu’az bin Jabal : " Adapun saya tidur dan bangun, dan mengharapkan didalam tidurku itu pahala seperti disaat aku bangun ". (HR. Muslim). Imam Nawawi menjelaskan perkataan Mu’az : “  yaitu saya tidur dengan niat menguatkan diri dan mengumpulkan jiwa untuk ibadah dan membuat rajin dalam ketaatan, maka saya mengharap tidurku itu pahala, sebagaimana saya mengharapkannya ketika saya sholat ". (Syarh shohih muslim 413/12).
Hadist Ketiga :
نحن قوم لا نأكل حتى نجوع، وإذا أكلنا لا نشبع 
“ Kami adalah kaum yang tidak makan  hingga dating rasa lapar, dan apabila makan , tidak sampai kenyang"
Syaikh Al-Albani mengatakan : " tidak ada asalnya".
Syaikh Bin Baz mengatakan : " sanadnya lemah".
Kesimpulannya tidak ada jalur yang shohih dalam penisbatan perkataan ini kepada nabi, namun isi dari perkataan ini dianjurkan dalam islam , sebagaimana di dalam surat Al-A'rof ayat  31 : " Makan dan minumlah dan jangan berlebihan".

Selamat menjalankan ibadah puasa mudah-mudahan  bulan ini tidak menguap begitu saja.
Waallahu ‘alam


www.bemiyaman.web.id

Bukan Perbedaan Namun Hanya Keberagaman

Allah subhana wataala berpesan kepada kita bahwa, keanekaragaman , bangsa dan suku tujuannya adalah untuk saling mengenal dan seseorang yg paling dimuliakan disisi allah tolak ukurnya adalah ketakwaan,
Tidak bisa kita pungkiri sebuah Keanekaragaman adalah sunnatullah , baik dari sisi sifat manusia yang berbeda beda, ataupun dari sisi kecendrungan memilih sebuah pekerjaan.
Dulu imam malik rhodiallahu anhu,sangat memperhatikan penampilannya dalam berpakaian, dan beliau mengaggap itu semua sebagai pemulian terhadap sebuah ilmu, dan kewibawaan seorang ulama, beliau mengatakan " adalah sebuah kesopanan dan adab bagi seorang alim ulama, untuk memilih pakaian yang bagus, kemudian memakainya dan memperlihatkannya, dan seyogyanya bagi para alim ulama dilihat oleh orang selalu dalam keadaan berpakaian yang indah dan memakai imamah yang bagus" Dikesempatan yang lain sang imam darul hijrah ini menjelaskan "saya selalu suka orang yang diberi kenikmatan oleh Allah subhanawataala kemudian menunjukan  nikmat tersebut secara lahir, terkhusus bagi para alim ulama sebagai tanda penghormatan dia terhadap ilmu"
sang imam malik selalu  memakai pakaian yang indah dan bagus dari jenis pakaian aden yang berkwalitas, atau pakaian khurosan dan mesir yang top.
Sampai diriwayatkan ketika beliau wafat, didapati barang peninggalan beliau terdapat 500 pasang sandal, seratus imamah, dan 629 dinaar dan 1000 dirham
Imam dzhabi mengatakan " sejak dahulu sebagian para ulama besar, biasa berdandan, dan mempunyai rumah yang bagus, dan kenikmatan lahir , mempunyai selera tinggi di dunia dan akherat, menerima hadiah, dan juga beramal sholih"
Semua ini mengingatkan kita dengan  firman Allah "wahai para rosul  makanlah dari sesuatu yang baik dan beramallah sholih (almukminun;51)
Dan hadist nabi "bahwasanya Allah menyukai orang yang memperlihatkan  hasil nikmat yang Allah berikan "-hr tirmizi dan baihaqi-
Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Gaya hidup seperti ini termasuk syar'i , dan sebuah kesalahan kita mencemooh seorang ulama disebabkan karena dia kaya dan berpenampilan menarik, seakan2 dalam pandangan pencemooh seorang ulama harus lusuh, dan tidak peduli terhadap dunia, dan melupakan hadist "bahwasanya allah itu indah dan mencintai keindahan "–hr muslim-
Dan ada juga para ulama yang  menjalani gaya hidup yang berbeda dari contoh yang pertama,  dengan  berpakaian yang biasa , dan hidup dalam kesederhanaan. Ibnu jauzi menceritakan cuplikan kesederhanaan imam ahmad rodhiallahu anhu dalam manaqibnya " pernah imam ahmad menggadaikan sendalnya kepada tukang roti, untuk mendapatkan sebuah makanan, pernah juga sang imam menjual jubahnya , untuk membeli pakaian"
Imam marwadzi mengisahkan  bahwasanya imam ahmad pernah memberikan khuf nya kepadanya, untuk diservis, setelah beliau memakainya selama 10 tahun, dan didapati di khuf tersebut 6 lubang "
Beginilah sekelumit keanekaragaman para ulama-belum lagi kisah2 para sahabat nabi-, diantara mereka ada yang berjalan kepada kecondongan kepada sesuatu yang indah dan berkwalitas ternama,  ada juga yang memilih jalan hidup zuhud dan berpaling terhadap dunia, berpegang terhadap hadist" kesederhanaan  termasuk keimanan"  –hr ahmad ibnu majah , timizi-
Beginilah kehidupan bermasyarakat yg biasa kita lihat, selalu ada keanekaragaman, dan seharusnya tidak ada cemooh satu sama lain ketika mereka memilih gaya hidup yg berbeda –selama dalam syariat-  , diantara kita ada yg kaya dan dan miskin, dan semua itu juga berdampak kepada sebuah gaya hidup yang kita pilih, adanya keanekaragaman sifat dan tabiat yang seandainya kita paksakan didalam satu jalan saja, akan membuat kesulitan dan efek buruk pada masyarakat.
Sebuah kemiskinan atau kekayaan tidak bisa secara mutlak sebagai barometer kita memuji seseorang,
Dalam sebuah hadist qudsi "bahwasanya dari hambaku ada yang  tidak menjadi baik  melainkan  dalam keadaan faqir, seandainya aku beri dia kekayaan, pasti akan merusaknya, sebagian hambaku ada yang tidak menjadi baik  melainkan dalam keadaan kaya, seandainya aku berikan dia kefakiran pasti akan merusaknya, sebagian hambaku ada yang tidak menjadi  baik ,kecuali dalam keadaan sehat, kalau aku beri sakit pasti itu akan merusaknya, sebagian dari hambaku ada yang tidak menjadi baik kecuali dalam keadaan sakit, seandainya aku sembuhkan ia, pasti akan merusaknya, saya lebih tau tentang hambaku, saya maha mengetahui dan maha melihat  tentang keadaan mereka "–hr  ibnu asyakir, baghowi-
Mudah2an kita selalu siap untuk menjadi hamba Allah yang kaya lagi bersukur atau miskin namun penyabar, dan menjadi wali allah yang beriman dan bertaqwa , sebagai mana perkataan ibnu taimiah " para wali allah adalah orang yang beriman dan bertaqwa, siapapun mereka, baik itu orang faqir, sufi, faqih , ulama, pedagang, tentara, produsen, pempimpin, hakim, dan lainnya. Allah berfirman "ketahuilah wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati. Yaitu orang orang yang beriman dan senantiasa bertaqwa(yunus 62-63)" –majmuk fatawa 11/23-
Waallahu alam bishowab 

www.bemiyaman.web.id

Risywah

Penulis: Dept. Hisbah


Risywah, atau dalam bahasa sehari-hari disebut 'sogok' atau 'nyogok', sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sebagian ummat. Kita dalam menyelesaikan muamalah di kantor-kantor atau institusi-institusi pemerintahan, terkadang tak lepas dari yang namanya risywah. Sesungguhnya dalam risywah terdapat mafsadat yang besar. Terlebih risywah di dalam areal mahkamah atau peradilan. Datang orang yang teraniaya ke pengadilan untuk menuntut keadilan, namun si dholim datang dengan segenggam uang dan memberikannya kepada hakim, selesailah perkara. Yang teraniaya tetaplah teraniaya.
Berkata syaikh Athiyyah Muhammad Salim di syarh bulughul marom : والرشوة أخطر وأضر داء في المجتمعات، يفسد الدين والدنيا، والفرد والجماعة والحاكم والمحكوم، فالرشوة في الغالب لا تكون إلا في باطل؛
"adapun risywah, maka itu adalah penyakit masyarakat yang paling berbahaya. Yang merusak agama, dunia, pribadi, jamaah, hakim, dan orang yang diadili. Dan risywah itu pada umumnya tidak terjadi kecuali pada sesuatu yang bathil"
Islam datang sebagai rahmat untuk seluruh alam. Allah ta'aala berfirman (yang artinya)
"dan tidaklah Kami mengutusmu (wahai Muhammad) kecuali sebagai Rahmat bagi seluruh alam" (QS :al Anbiya :107)
Dan Islam datang menghapuskan seluruh kezhaliman, dan menutup segala pintu kezhaliman. Dan juga menutup segala pintu yang dapat menuju kepada perbuatan zhalim.
Termasuk Islam melarang perbuatan risywah dengan segala macam dan bentuknya. Di dalam hadist :
: لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الرَّاشِىَ وَالْمُرْتَشِىَ.
"Rosulullah SAW melaknat  orang yang melakukan risywah dan yang menerima risywah"
(HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad, Baihaqi, Thabrani, Bazzar, Hakim(dan disetujui Ad dzahabi), Ibnu Majah,Ibnu Hibban, dan yang lainnya dengan sanad dan matan yang berbeda tapi satu ma'na. dan dishohihkan pula oleh syeikh albani rohimahullah.)
Berkata Imam Almanawi
( الراشي والمرتشي ) آخذ الرشوة ومعطيها ( في النار ) أي يستحقان دخول جهنم إذا استويا في القصد فرشاً المعطى لينال باطلاً فلو أعطى للتوصل لحق أو دفع باطل فلا حرج
Arrasyi wal murtasyi yaitu orang mengambil risywah dan yang memberikan.
(Finnar) yaitu mereka berdua berhak masuk Naar jahannam apa bila tujuan mereka berdua sama. Yaitu jika seseorang memberikan risywah untuk mendapatkan sesuatu yang tidak dibenarkan. Adapun jika memberikan sogokan untuk mendapatkan sesuatu (yang itu adalah) haknya, maka tidaklah mengapa.
Sebagai contoh dari yang dikatakan Almanawi rohimahullah adalah sebagai berikut. Seseorang ingin mendapatkan sesuatu yang seharusnya ia tidak berhak mendapatkannya (entah karena syaratnya kurang, atau alasan yang lainnya). Dan ia menyadarinya, lalu ia membayar dengan sejumlah uang agar ia tetap bisa mendapatkan sesuatu tersebut meski ia sebenarnya tidak berhak mendapatkannya. Maka ini masuk di dalam kategori risywah yang diharamkan oleh Rosulullah SAW.
Dan yang kita sayangkan, sebagian orang melaksanakan ibadah dengan cara yang seperti ini. Misalnya yaitu haji. Seharusnya ia tidak bisa berangkat tahun ini. Namun dengan memberikan sejumlah uang terhadap oknum di pengurusan haji, ia bisa berangkat haji di tahun tersebut. Bayangkan, ia berangkat haji dengan cara yang dilaknat oleh Rosulullah SAW. Akankah Allah ta'ala menerima haji tersebut? Wallahu a'lam.
Contoh yang lainnya, seseorang melakukan suatu muamalah. Dan sudah diketahui bahwa muamalah tersebut selesai dalam waktu tiga atau empat hari. Namun, ia membayar sejumlah uang agar ia dapat menyelesaikannya dalam satu atau dua hari. Ini adalah termasuk risywah yang dilarang oleh Rosulullah SAW.
Adapun bila keadaan memang memaksa seseorang untuk membayar risywah, seperti seseorang yang seharusnya ia berhak menerima sesuatu, namun dikarenakan kezhaliman beberapa oknum, ia tidak akan menerima haknya tersebut kecuali dengan membayar risywah. Dalam hal ini ulama berpendapat :
وقال فقهاؤنا : يجوز إعطاء الرشوة إذا كان مظلوماً ، وإن كان ظالماً أو كان له غرض فاسد فلا يجوز
"para fuqaha kami berpendapat : diperbolehkan memberikan risywah apabila ia dalam keadaan didholimi. Namun, bila ia dholim atau mempunyai tujuan yang tidak diperbolehkan, maka itu tidak diperbolehkan.
فأمَّا ما يُعْطَى تَوصُّلا إلى أخْذِ حق أو دَفْع ظُلْم فغير داخل فيه
"Adapun bila risywah tersebut diberikan untuk mengambil sesuatu (yang itu adalah) haknya, atau mencegah kezhaliman, maka itu semua tidak termasuk di dalam (hadits tersebut)"
Sebagai contoh, yang biasa kita temui. Seseorang ingin membuat SIM atau KTP. Ia sadar bahwa ia berhak memiliki KTP atau SIM tersebut. Dan ia sadar bahwa jika ia tidak melakukan risywah, maka ia tidak akan memiliki KTP atau SIM tersebut. Dan satu-satunya jalan adalah melakukan risywah. Maka dalam hal ini, ia membayar risywah. Dan dosa serta akibatnya ditanggung oleh pihak yang memaksa dia untuk membayar risywah.
Ini sebagai bahan koreksi diri kita masing-masing. Jangan sampai barokah ilmu kita tercabut hanya karena kita melakukan sesuatu yang dilaknat oleh Rosulullah SAW.

Wallahu ta'aala a'lam.

Refleksi Tahun Baru

Penulis: Akhukum Filla

Al-Hamdulilah Allah SWT masih memberi suatu momentum berharga pada kita, sebagai hambanya yang sering lalai atas perintah dan larangannya. momentum dimana tidak semua manusia dapat menggapainya, yakni momentum memperbaiki diri dan memperbanyak bekal untuk akhirat nanti.
Tahun baru, begitulah sebagian manusia mengistilah momentum ini. Tahun dimana bertambah angka pada tahunnya, bahkan sebagian manusia menganggap telah bertambah pula umurnya. Maka disengarakanlah pesta yang meriah dan berkesan untuk memperingatinya. Mereka seperti tak menyadari hakikat sesungguhnya bahwa dengan semakin bertambahnya tahun yang ia lewati maka semakin berkuranglah kesempatan hidup yang ia miliki.

Adapun kita sebagai penuntut ilmu syari' pencari kebenaran hakiki, tentu berbeda menanggapi tahun baru yang sedang dijalani ini. Karena tempaan ilmu syari’ yang telah dijalani membimbing kita tentang hakikat kehidupan ini. Setelah kita mengetahui hakikat kehidupan di dunia yang fana ini tentulah dalam mengambil keputusanpun akan berbeda dengan mereka yang tertipu makar setan. Ikhwa fillah momentum tahun baru ini janganlah kita sia-siakan dengan perkara yang kurang bermanfaat, apalagi sampai menghilangkan berkah umur yang Allah SWT anugrahkan pada kita. Tentulah kita telah mendengar perihal seorang muslim hakiki atau tolak ukur baiknya seorang muslim dari lisan sucinya yang tak pernah berdusta. Rasullulah SAW bersabda:

(من حسن اسلام اللمرء تركه ما لايعنيه (روه الترميدي
Artinya:"Dari baiknya islam adalah seorang  meninggalkan perkara-perkara yang tak berguna baginya"(hadist riwayat tirmidzi)
Az-zurqoni dalam syarh Al-Muato' berkata bahwa isnadnya hasan.
Untuk memaknai hadist diatas begitu jelas tatkala kita membaca matannya. Jadi yang menjadi salah satu karakteristik baiknya islamnya seseorang yakni meningalkan segala perkara yang tidak bermanfaat baginya. Maksud dari perkara ini mencangkup perkara dunia maupun akhirat. Ilmu yang telah kita ketahui ini seyokyanya diaplikasikan dalam kehidupan karena salah satu tanda barokahnya ilmu seseorang apabila ia mau mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karenanya momentum tahun baru yang Allah SWT anugrahkan pada kita haruslah dapat memotivasi kita untuk menjadi muslim yang baik.
Kemudian pastilah ada pada benak kita,"Bagaimana solusi yang tepat dan sesuai tuntunan nabi SAW agar menjadi muslim yang baik?" Tentu jawaban yang sesuai adalah sebagaimana telah tersebut dalam hadist di atas, yakni berusaha meninggalkan segala perkara apapun yang tidak memberi manfaat pada kita. Ikhwa fillah, mulailah dari sekarang! Mungkin tahun lalu kita masih sering –MAAF--chatingan tanpa tujuan,main game tak kenal waktu, ataupun bercanda sangat keterlaluan. Semua perkara diatas apabila ditempatkan sesuai kadarnya akan menjadi media pengembangan diri dan media untuk merilekskan kepenatan hati, tapi apabila meraka dijadikan kegiatan rutin setiap hari pastilah menghabiskan waktu kita yang seharusnya digunakan dalam ketaatan pada Allah SWT.
Apakah kita tidak takut Allah SWT akan murka Karena kita kurang mampu mensyukuri nikmat waktu yang diberikan pada kita? Mari kita mulai saling memperbaiki diri masing-masing dari kesalahan-kesalahan yang terlanjur diperbuat pada tahun lalu. Yakni dengan sedikit demi sedikit mengurangi perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi kita. Dengan demikian insya Allah kesalahan-kesalahan yang lalu dapat dihapus dengan kebaikan-kebaikan yang kita lakukan saat ini. Saya yakin antum dapat melakukannya karena antum adalah harapan keluarga antum dan agama yang hanif ini.
Saya tutup tulisan ini dengan firman Allah SWT dan sabda Rosullulah SAW, mudah-mudahan bisa menjadi perenungan kita bersama.
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya" mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
عن ابن عباس رضي اللة عنه قال:قال رسول اللة صلي اللة عليه السلام:
اغتنم خمسا قبل خمس
حياتك قبل موتك, وصحتك قبل سقمك, وفراغك قبل شغلك, وشبابك قبل هرمك, وغناك قبل فقرك
Refensi: -Al-Wafi fi syarh Arbain nawawi lidduktur musthofa Al-Bugho wan duktur muhyiyudin miswa
-Dalilussailin lil Anas Ismail abu daud

www.bemiyaman.web.id

Mengamati perjalanan dakwah rasulullah sallahu'alaihiwassalam menegakkan syariat Islam

Penulis: Abulfda Mohammad Dino

Rasulullah sallahu'alaihiwassalam adalah sebaik-baiknya tauladan, dari hal-hal yang kecil sampai hal yang besar kecuali telah beliau contohkan. Kehidupan perjalanan rasulullah sallahu'alaihiwassalam adalah suatu sejarah yang perlu kita cari hikmah dan pelajaran dibaliknya, dengan mengikuti perjalanan beliau niscaya ummat islam ini akan kembali meraih kejayaan, yang mengendalikan kepemimpinan dunia dibawah syariat Islam yang menyebarkan kebaikkan dan keamanan.
Sungguh banyak sekali karangan para ulama yang membahas tentang sirah nabawiyah dengan berbagai macam konsentrasi yang diambil oleh pengarangnya, sebagian ada yang mengambil konsentrasi di sejarahnya saja, serta ada juga yang konsentrasi pada shahih sirah nabawinya, konsentrasi fiqih sirohnya,
harokahnya, serta adapula yang konsentrasi pada hikmah-hikmah dan pelajaran-pelajaran pada perjalanan beliau yang semuanya membawa pada kesegaran dalam menggali dan membahas siroh nabawiyah yang penuh tauladan, mengobarkan dan membacanyapun tidak membosankan.

Siroh nabawiyah tidak lepas dari beberapa fase, seperti fase sebelum kenabian, fase kenabian dan kerasulan di mekkah, fase madinah.

Fase sebelum kenabian (persiapan)

Beliau sallahu'alaihiwassalam terlahir dari keturunan yang paling mulia dalam bangsa arab, dilahirkan dalam keadaan yatim, enam tahun berikutnya beliaupun menjadi piatu. Kehidupan dimasa usia kecilnya beliau telah mengembala kambing yang melatihnya menjadi seorang pemimpin, melatihnya kesabaran, bertanggunjawab, pemberani, kasih sayang dan mampu untuk bekerja. Peristiwa pembelahan dada yang terjadi atas dirinya tidak lain adalah proses pensucian diri beliau dari bagian setan yang menjauhkan beliau dari perbuatan buruk dan dosa dan penyembahan berhala yang tiada tempat dihatinya kecuali kemurnian tauhid. Pertemuannya dengan pendeta Bahira yang mengetahui dengan yakin bahwa beliau sallahu'alaihiwassalam adalah sayyidul alamin dan utusan tuhan alam semesta adalah suatu bukti bahwa para pendeta dari ahli kitab mengetahui betul bahwa Muhammad sallahu'alaihiwassalam adalah rasul semesta alam, yang mereka ketahui dari tanda-tanda dan sifat-sifat yang tertulis dalam kitab mereka, untuk itulah Bahira memperingati pamannya untuk tidak pergi ke Ruum, karena Ruum mengetahui bahwa munculnya rasulullah adalah pertanda berakhirnya praktek penjajahan mereka di daerah-daerah dan juga menghancurkan kepentingKan-kepentingan daulah ruuman. Kejujuran nabi Muhammad, amanah, dan mulia akhlaknya yang didengar oleh saudagar wanita Khadijah yang mendorongnya untuk bermitra dengan beliau dalam perdagangan. Tidak berhenti diperdagangan, setelah mendengar cerita-cerita kebaikkan beliau dari Maysarah, utusan khadijah yang menemani rasulullah berdagang, Khadijahpun menawarkan diri untuk menikah dengan beliau sallahu'alaihiwassalam, beliaupun menerima dan memberikan mahar duapuluh onta. Pernikahan ini adalah terjadi atas takdir Allah kepada nabiNya, memilih untuknya istri yang sesuai baginya, melindunginya, meringankan apa-apa yang menimpanya dan menggelisahkannya, dan membantunya dalam mengemban beban-beban risalah. Pengaruh khadijah sebagai istri sangat besar sekali dalam membantu dakwah rasulullah sallahu'alaihiwassalam, hal itu tampak ketika nabi menjelang diangkat nabi dengan diturunkannya wahyu di gua Hira, rasa takut nabi terhibur dan terobati dengan kata-kata Khadijah, dan banyak sekali peranan khadijah dalam dukungannya atas dakwah rasulullah yang bisa dijadikan contoh oleh para istri kaum muslimin untuk membentuk keluarga islami.

Fase kenabian dan kerasulan di periode Mekkah

Setelah beliau diangkat sebagai nabi dan rasul, maka mulailah beliau sallahu'alaihiwassalam mendakwahkan islam, langkah pertama dakwah beliau dimulai dengan sirriyah, suatu langkah yang penuh hikmah yang beliau ambil agar kaumnya tidak terkejut dengan risalah yang dibawanya yakni untuk menyembah kepada Allah subhanahu wata'ala, yang mana kaumnya tidak beragama kecuali menyembah berhala, mengikuti peribadatan nenek moyang mereka. Dalam dakwah sirriyah ini beliau rekrut orang-orang terdekatnya, pilihannya mulai dari istri, budaknya, anaknya, dan keponakannya dan sahabatnya, dan dari usaha sahabatnya (abu bakar) menyerukan islam masuklah lima orang yang merupakan pendukung dan penguat yang berdiri disisi rasulullah sallahu'alaihiwassalam dalam dakwahnya, serta dari mereka memungkinkan terbentuknya suatu jamaah yang berusaha untuk mendakwahkan manusia kepada agama Islam, dan membentuk Negara islam yang merealisasikan peradaban rabaniyah.
Dakwah sirriyah berlangsung tiga tahun, dan masuklah dalam masa itu beberapa orang. Dalam masa ini pula pergerakkan muslimin penuh kehati-hatian, tidak bebas, sembunyi-sembunyi dalam mengkaji alqur’an dan keislaman dari sumbernya. Rumah khadijah yang tidak dapat menampung lagi sebagai tempat talaqi keislaman, pembentukkan aqidah shahihah, peribadatan, akhlak, tajkiyah serta pelatihan jasmani yang bersumberkan dari alqur’an, juga sebagai pusat menjaga kerahasiaan organisasi, membuat rasulullah berinisiatif untuk mencari alternative tempat lain yang jauh dari pantauan musuh, untuk pertemuaan rutin antara para anggota, antara anggota dan anak buahnya untuk saling bertukar pendapat, pengalaman, solusi, maka dipilihlah rumah Alarqom bin Arqom dari Bani Mahjum disebabkan beberapa faktor diantaranya keislaman Arqom diusianya yang masih muda membuat Kaum Quraisy tidak terdetik untuk mencari tempat pusat berkumpulnya kaum muslimin di tempat seorang pemuda, serta keislamannyapun tidak banyak diketahui, dan bani mahjum adalah pembawa panji persaingan dan perang terhadap bani Hasyim, yang mungkin tidak terdetik terjadinya perkumpulan dirumah musuh. Dalam masa ini sangat jelas rasulullah memerintahkan untuk mewaspadai keamanan dengan menjaga kerahasiaan walaupun dengan orang-orang terdekatnya, dibentuklah beberapa kelompok yang terjaga kerahasiaannya dan tersembunyi bukan takut atau sekedar bersembunyi tapi sebagai ajang persiapan dan pelatihan, yang tahu mengajar yang tidak tahu.
Setelah terbentuk persiapan yang memadai serta jamaah yang terorganisir dan terlatih, maka tibalah waktunya untuk dakwah jahriyah (terang-terangan) dengan tetap menjaga kerahasian yang terorganisir, dikumpulkan diserukannya kabilahnya, keluarganya untuk beriman kepada tuhan yang satu, dan menakuti akan azab yang dasyat, dan memerintahkan mereka untuk menyelamatkan diri mereka dari api neraka.
Mulailah siksaan-siksaan dan gangguan-gangguan menimpa kaum muslimin, khususnya kaum lemah seperti bilal, keluarga Yasir, nabi dan para sahabatpun tidak luput dari siksaan mereka dan keluarganya, walaupun sebagian mereka berusaha menolong kaum lemah dengan berbagai cara seperti abu bakar menyelamatkan bilal. Kesabaran rasulullah sallahu'alaihiwassalam dan kaum muslimin atas siksaan yang menimpa mereka bahkan mereka terus mendakwahkan islam menambah kaum quraisy berpikir untuk lebih meningkatkan siksaannya, maka pada akhir tahun tujuh dari kenabian kaum muslimin diboikot secara ekonomi dan sosial. Dan juga pada tahun kelima kenabianpun dua belas dari kaum muslimin berhijrah ke habasyah, kemudian hijrah kedua ke habasyah pula dengan jumlah yang banyak dan lebih sulit karena quraisy telah mengetahui akan hal ini, untuk itulah kerahasian hijrahpun harus terjaga, hijrah ini adalah atas perintah rasulullah, sebagai pimpinan yang bijak yang ingin melindungi balatentara dakwahnya ditempat yang aman, disamping tujuan lainnya seperti menerangkan islam sebenarnya, dan sikap Quraisy terhadap islam, serta membuka lahan dakwah baru.
Setelah jahriyah di makkah rasulullah pun melanjutkan ketahap berikutnya yaitu dakwah keluar mekkah yaitu di toif pada tahun sepuluh hijriah, beliau menetap disana sepuluh hari, tidak ada satupun pemuka masyarakat Toif kecuali beliau datangi dan dakwahi, walaupun yang diterima kata-kata pengusiran, ejekkan, teriakkan dari orang bodoh mereka dan para budak yang mengikutinya dan melemparinya.
Sepulangnya dari Toif dakwah beliau lanjutkan dakwak ke individu-individu selain ahli mekkah serta para kabilah yang datang pada musim perdagangan dan haji, beliau serukan islam serta meminta kepada mereka perlindungan dan pertolongannya, dakwah dalam masa ini tidaklah berjalan mulus karena abu jahal dan abu lahab silih berganti menghalangi rasulullah dengan berbagai cara saat menyeru kepada kabilah dimusim haji atau di pasar-pasar, rasulullahpun menggunakan metode dengan menemui mereka pada malam hari, mendatangi ketempat persinggahannya, dibantu oleh sahabatnya Abu Bakar yang merupakan pemuka Quraisy dan mengenal betul pemuka-pemuka kabilah, memastikan akan perlindungan kabilah terhadapnya.
Dan pada tahun ke sebelas kenabian pada musim haji, dakwah rasulullah sallahu'alaihiwassalam mendapatkan bibit unggul yang tumbuh darinya pohon-pohon yang menjulang tinggi, dengan masuknya enam orang pemuda dari kabilah khozroj dari ahli yatsrib, dan sepulangnya mereka menyerukan islam kepada ahli Yatsrib hingga tidak ada satu rumahpun kecuali disebut nama rasulullah sallahu'alaihiwassalam.
Kemudian pada tahun kedua belas dari kenabian datanglah duabelas orang dari penduduk Yatsrib termasuk enam orang pertama bertemu rasulullah di Aqobah untuk berbaiat ( berjanji setia) kepada rasulullah yang isinya tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak mereka tidak mengerjakan kebohongan dengan tangan maupun kaki, dan tidak mendurhakai rasulullah pada hal-hal yang ma’ruf, siapa yang menepati maka balasannya adalah surga, dan siapa yang mengkhianati maka urusannya diserahkan kepada kehendak Allah, disiksa atau diampuni. Baiat aqobah pertama dinamakan baiat Nisaa’ karena tidak mencakup wacana perang, karena wacana perang tidak terbentuk kecuali setelah terbangunnya fikroh dan aqidah. Dalam baiat nisaa ini ada beberapa poin penting, pertama adalah bagian akidah yakni untuk tidak menyekutukan Allah yang merupakan pernyataan perang akidah di masyarakat madinah, kedua bagian akhlak yakni tidak mencuri, tidak berzina, membunuh anaknya, dan melakukan kebohongan, mereka yang bisa merapkan bagian ini adalah yang pantas menjadi pejuang sejati yang dapat melaksanakan perintah-perintah yang diamankan kepadanya, ketiga memberikan wala’ hanya kepada Allah dan rasulNya, maka tamatlah wala’ mereka terhadap kabilah dan penguasa Madinah, keempat penerpannya bersandarkan pada diri sendiri bukan pada penguasa, jika ia berkhianat maka Allah yang membalasnya bukan penguasa, dan apabila menepati maka Allah akan membalasnya dengan surga bukan pemberian harta dari penguasa.
Rasulullah pun mengutus bersama mereka Mus’ab bin Umair ke Madinah untuk mengajarkan islam, membacakan al-qur’an, dan mengimami shalat, dan melaluinya lah Islam tersebar di madinah dalam beberapa bulan dan mendapatkan penolong-penolong untuk islam dari pembesar-pembesar Madinah. Dan sebelum musim haji tahun ketiga belas kenabian Mus’ab bin Umair kembali ke Mekkah menerangkan keadaan akhir muslimin di Madinah, dan potensi dan kemampuan yang tersedia disana, dan kaum muslimin disana siap untuk melakukan baiat baru untuk melindungi rasulullah sallahu'alaihiwassalam.
Pada tahun ketigabelas kenabian pada musim haji pada malam hari akhir hari tasrik diadakan baiat aqobah kedua yang diikuti oleh tujuhpulahan orang, pelaksanaan baiat ini berjalan secara rahasia tempat dan waktu berkumpul, mereka keluar menuju tempat berkumpul teratur, menyelinap tersembunyi satu-satu, dua-dua, tiada yang mengetahui pelaksanaan baiat ini dari kaum musrikin kecuali pamannya Abbas bin Abdul Mutolib maupun kaum muslimin kecuali ali dan Abu Bakar. Malam dan hari terakhir musim haji yang dipilih agar berita baiat tidak terdengar oleh quraisy karena hari itu juga mereka harus kembali.
Baiat kedua ini dinamakan baiat harb (perang), baiat yang berisikan lima point yang menunjukkan secara jelas akan kekuatan tegas yang tidak menerima kata penundaan dan lunak, baiat yang harus dipikirkan akan resiko besar yang diterima oleh mereka, oleh karena itu pamannya Abbas berkata jika mereka tidak sanggup menanggung resiko dari baiat ini, lebih baik tinggalkan nabi Muhammad segera, karena ia di mekkah dalam perlindungan kaumnya dan mempunyai kedudukan, tapi dia cenderung memilih kalian. Baiat ini berisikan untuk sam’an wa toa’atan dalam senang dan susah, dan menafkahkan harta dalam kelapangan dan kesempitan, beramar makruf nahi munkar, dan berdakwah dijalan Allah yang tidak takut atas celaan orang, dan menolong rasulullah dan melindunginya jika beliau datang ke mereka seperti mereka melindungi dirinya, istrinya, dan anak-anaknya dan jika mereka menepati maka bagi mereka adalah surga. Setelah pengucapan baiat ini rasulullah meminta dua belas orang dari mereka untuk menjadi penanggungjawab akan pelaksanaan dakwah di Yatsib. Kekuatan baiat ini membuat mereka untuk siap perang seketika itu juga untuk melindungi rasulullah, namun dengan bijak rasulullah berkata : kita belum diperintahkan untuk berperang, tapi kembalilah kalian. Ini adalah suatu pernyataan bahwa permasalahan perang dan berinteraksi dengan musuh tidak diserahkan kepada ijtihad pengikut, tapi tunduk pada perintah-perintah Allah, dan jika disyariatkan jihad maka permasalahannya diserahkan oleh para ahlu syuro ntuk mengkaji permasalahan dari segala sisi.
Setelah memastikan adanya Negara bayangan yang luas dan kesiapan ahli yatsrib untuk menerima Muhajirin, maka rasulullah sallahu'alaihiwassalam mengijinkan kaum musilimin untuk berhijrah ke Madinah, bukanlah arti dari hijrah disini perjalanan manusia meninggalkan daerah, namun pengorbanan meninggalkan tempat, keluarga, harta, pekerjaan, cinta demi mempertahankan akidah. Karena mengetahui bahaya besar akan akibat gelombang besar hijrah ini dari segala bidang, kaum Quraisy menggunakan berbagai cara untuk mencegah mereka diantaranya dengan memisahkan seseorang dengan istrinya dan anaknya, penculikkan, diambil hartanya, akan tetapi karena tarbiyah imaniyah yang dalam yang diajarkan rasulullah, tekanan kuat yang diterima kaum muslimin yang membuat mereka merasa tidak ada kemungkinn bisa hidup beradampingan dengan kaum kufar, serta kandungan alqur’an makkiyah yang menyebutkan bahwa bumi Allah ini luas mulailah kaum muslimin hijrah, mencari tanah baru agar bebas dalam berdakwah, menerapkan dan memperlihatkan keberhasilan syariat-syariat islam dibawah naungan daulah islamiyah.
Begitupun dengan hijrahnya rasulullah sallahu'alaihiwassalam bukan didorong oleh rasa takut dan ingin melarikan diri, karena beliau selalu dalam perlindungan dan maiiyah Allah serta ungkapan beliau bahwa bahwa mekkah adalah tanah Allah yang paling dicintainya dan tuhannya, seandainya kaummnya tidak mengusirnya iapun tidak keluar.
Begitulah perjalanan rasulullah sallahu'alaihiwassalam dalam berdakwah mulai dari dipersiapakannya beliau menjadi nabi dan rasul hingga dakwahnya di mekkah dengan berbagai kerikil yang diterima, serta strategi-strategi indah beliau untuk mempersiapkan Negara islam.
Bersambung…….

www.bemiyaman.web.id

Ayyuhal 'Aalam, Qoothi'uu Ka'sal Aalam!

Penulis: Abu Kafa


Alhamdulillah, Allohumma sholli ala man la nabiya ba'dah. Wa ba'd:
Tidak asing bagi kita apa yang disebut sebagai World Cup (piala dunia, ka'sal alam), walaupun ada diantara kita yang mungkin sama sekali tidak pernah melihatnya, tentunya dia pernah mendengar istilah tersebut. Segala persiapan dan latihan dilakukan untuk memperebutkan piala dunia ini, dari babak penyaringan sampai akhirnya babak final. Begitu juga persiapan setiap negara untuk ikut berusaha berpartisipasi merebutkan piala dunia, sering kita mendengar negara ini atau itu sedang mempersiapkan diri untuk bertekad memenangkan piala dunia.

Saya di sini tidak akan membicarakan apakah piala dunia itu halal ataukah haram, biarlah istinbath hukum piala dunia ini ditangani oleh para ahlinya, oleh para ulama dan mufti.

Saya hanya ingin mengajak para pembaca budiman untuk sekedar merenung bersama tentang persaingan-persaingan yang terjadi saat perebutan piala dunia, tentang piala dunia itu sendiri; tentang masa singkat yang membuat dunia tergoncang, tergetar, tangis menangis, hura-hura, gegap gempita, bergemuruh lalu dengan sekejap saja tenang kembali setelah satu kesebelasan tertentu yang mewakili suatu negara memenangkan piala dunia.

Saat kita selesai merenungkan ini semua, kita akan menemukan bahwa piala dunia, perlombaan, persaingan, pertikaian, perjudian di dalamnya adalah terlalu berlebihan. Kita sering mendengar, bahkan menjumpai seseorang (bahkan teman kita sendiri) yang gigih mengikuti setiap pertandingan dari babak ke babak, ikut menyemangati pemainnya yang dilihatnya di dalam layar kaca; kadang-kadang sampai berteriak-teriak histeris memberi dukungan, lalu saat jagonya keok, tanpa disadarinya ia menangis, sedih dan bahkan sampai teriak-teriak dan uring-uringan. Ada juga rekan, yang saat jagonya menang, ia bersorak ria, kadang-kadang sampai melompat-lompat saking bahagianya, lalu karena rasa syukurnya itu dia mentraktrik semua orang satu imaroh di rumah makan Hadhro', dan masih banyak lagi model-model luapan emosi para pendukung fanatic piala dunia. Tapi, mungkinkah kita berfikir sedikit apa di balik luapan emosi mereka itu? Adakah pertanyaan yang terbesit saat kesadaran mereka tumbuh kembali, "Apa yang mereka dapatkan dari luapan perasaan bahagia, atau sedih itu?", "Apa yang mereka dapatkan dari piala dunia, apakah pemenangnya akan memberi imbalan kepada kita?!" Wa Hum Yakhrujuna Bila Syai'!!!

Coba kita lihat di sekeliling kita, orang-orang sholih, rekan-rekan (atau masyayikh) yang benar-benar mawas diri baik dari Yaman atau Indonesia. Mereka berlomba-lomba untuk menghidupkan malam karena Alloh, mereka bersaing memperbanyak sholat, puasa karena Alloh, berkompetisi untuk melaksanakan amalan sholeh secara diam-diam, tenang dan damai. Mereka bahagia karena rahmat dan anugrah Alloh. Mereka bertaubat kepada Alloh dan meminta ampunannya, begitulah mereka menghidupkan malam dan siang mereka karena Alloh, mereka menangis karena Alloh, menangis karena dosa mereka. Bukan menghidupkan malam dengan terbengong di depan layar untuk menyaksikan piala dunia, bukan menangis karena piala dunia!

Jam demi jam berlalu, hari dan malam silih berganti, golongan orang-orang sholih dan mawas diri akhirnya memperoleh hal-hal yang lebih berharga dan agung dari pada gemuruhnya layar kaca!

Mereka memperoleh hal yang lebih memberi manfaat mereka pada yaumun la yanfa'u dinarun wa la dirhamun. Mereka mendapatkan sesuatu yang membuat mereka bahagia di hari itu, saat salah satu dari mereka menghadap dan berdiri di hadapan Alloh untuk mendapatkan hal yang lebih mulia dan berharga dari pada ka'sal alam; mereka mendapatkan kitabnya  dengan tangan kanan; dengan bahagia mereka mengatakan:

"Maka Dia berkata: "Ambillah, bacalah kitabku (ini). Sesungguhnya aku yakin, bahwa Sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku." (QS: Al-Haaqqoh 19-20)

Firman Alloh  dalam QS: Ar-Ruum 6-7:
"(Sebagai) janji yang sebenarnya dari Alloh. Alloh tidak akan menyalahi janjinya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai."

Seandainya umat manusia tidak lalai saat memperebutkan piala dunia, maka ia akan bahagia saat mendapatkan piala akhirat, piala penghargaan bergengsi dari Alloh  dan seluruh penghuni langit.

Ikhwani fillah, mari kita bertanya pada diri kita sendiri, "Kesebelasan mana yang akan kita dukung saat piala dunia tahun ini?" Setelah pertanyaan itu muncul, apakah kita memperhatikan bahwa mayoritas kesebelasan yang ikut memperebutkan piala dunia ini adalah para musuh-musuh Islam? Dari saat bangun tidur, mereka selalu menemukan istilah sebutan dan penamaan baru untuk merendahkan dan menghina Islam; dan saat matahari terbenam pun mereka selalu memikirkan bagaimana caranya agar mereka bisa menguasai kekayaan kaum muslimin dan meluluhlantakkan negaranya.

Ikhwani, sungguh disayangkan bahwa sebagian orang menghabiskan uang yang tidak sedikit untuk mendapatkan izin agar bisa me-relay siaran langsung (live) piala dunia, baik secara individu seperti di dalam rumah, atau di tempat-tempat umum sebagaimana yang dilakukan oleh para pengelola hotel, rumah makan, café yang pada akhirnya balasan yang mereka peroleh hanya kerugian baik secara langsung ataupun tidak.

Yang membuat kita keheranan dan sekaligus merasa sedih jika melihat ada orang yang demi piala dunia sampai membeli bendera/jargon/pamflet/logo kesebelasan jagonya; sebagian yang lain membeli kaos yang bergambar bendera kesebelasan yang didukungnya.

Piala dunia lebih besar madhorotnya dari pada manfaatnya, jika ada dari kita yang merasa mendapatkan manfaat dari piala dunia harus dipertanyakan apakah itu memang benar-benar manfaat yang kita harap-harapkan di dunia ini, ataukah hanya kepuasaan sesaat yang didasari pada pemuasan hawa nafsu belaka? Kalau saja kita mau membaca dan melihat kenapa sebagian ulama mengharamkan adanya piala dunia, apa hujjah mereka, niscaya kita akan lebih berhati-hati agar tidak terlalu terbawa oleh suasana piala dunia. Alloho a'lam.

Akhir kalam, seandainya suaraku bisa didengar di seluruh penjuru alam, ingin aku meneriakkan, "Ayyuhal 'Aalam, Qoothi'uu Ka'sal 'Aalam!"

www.bemiyaman.web.id

Di Balik Tuntutan Perubahan atau Pencabutan UU tentang Penodaan Agama di Indonesia

Penulis: Afdal Darsil Abdulla

Memang sudah menjadi Sunnatullah bahwasanya sampai kapanpun Islam akan tetap dimusuhi. Islam akan tetap “dipreteli”, akan tetap “disentil”. Dan itu akan tetap terjadi kapan saja dan dimana saja. Dimulai dari zaman kenabian sampai sekarang, tidak hanya di Arab, Eropa, Amerika bahkan di Indonesia, di negara kita sendiri. Di Indonesia, bagi yang sering mengikuti  berbagai perkembangan yang terjadi disana atau apa saja yang sedang hangat dibicarakan tentu tahu bahwa masa-masa sekarang (masa-masa yang berawal ketika Dr. Harun Nasution mulai melancarkan misinya yaitu ingin memu’tazilahkan IAIN (yang kini telah berganti nama menjadi UIN) pada khusunya dan perguruan tinggi Islam lainnya pada umumnya - sampai saat ini) merupakan masa-masa yang berat bagi Ummat Islam di Indonesia. Masa-masa dimana Islam dicekik dan diancam dari berbagai sisi. Terbukti berbagai upaya telah dilakukan, berbagai pernyataan yang menyudutkan dan menyakitkan sering dilontarkan, pemikiran-pemikiran yang nyeleneh dengan semangat  diajarkan. Oleh berbagai pihak, baik yang mempunyai kepentingan atau andil atau hanya sekedar ikut-ikutan, baik dari pihak noni (non Islam) yang tidak senang dengan keberadaan dan ke-eksistensian Islam dan kesempurnaan ajarannya atau bahkan dari saudara kandung sendiri, terutama pemimpin-pemimpin atau sarjana-sarjana Islam yang mengaku-ngaku sebagai pembaharu dalam Islam (yang dalam buku 50 Tokoh Islam Liberal Indonesia para pembaharu ini dibagi dalam 3 bagian. Bagian pertama yaitu Para Pelopor,terdiri dari 8 orang termasuk di dalamnya Dr. Harun Nasution, Cak Nur dan Gus Dur, bagian kedua yaitu Para Senior, 3 orang diantara mereka yaitu Ahmad Syafi’i Ma’arif, Alwi Abdurrahman Shihab dan Said Aqiel Siradj, kemudian Bagian ketiga yaitu Para Penerus Perjuangan, yang di dalamnya terdapat dua orang yang sangat terkenal karena “ide-ide” mereka yaitu Ulil Abshar Abdala dan Siti Musdah Mulia, yang mempelajari Islam tetapi bukannya mendukung dan membantu berdirinya Islam yang kaffah malah kemudian balik mencemooh agamanya sendiri, mencerca dan mengatakan Islam tidaklah relevan lagi, tidak up to date, tidak lagi sesuai dengan zaman sekarang, mesti dirombak, mesti direkonstruksi kembali, diperbaharui dan disesuaikan dengan selera mereka. Tingkah polah para tokoh, baik itu individu ataupun kelompok atau lembaga dan berbagai pernyataan mereka yang kontroversial memang selalu membuat kita geram.
Baru-baru ini beredar pemberitaan di berbagai media mengenai sidang uji materi Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 tentang Penodaan Agama di Mahkamah Konstitusi (MK). Dimana disebutkan bahwa sejumlah LSM ternama dan tokoh di Indonesia seperti LSM Imparsial, Lembaga Studi Advokasi Masyarakat (ELSAM), Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI), Perkumpulan Pusat Studi HAM dan Demokrasi, Perkumpulan Masyarakat Setara, Yayasan Desantara dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Gus Dur, Musdah Mulia, Dawam Raharjo dan Maman Imanul Haq, meminta kepada Mahkamah Konstitusi (MK) agar mencabut atau mengubah Undang-Undang  Nomor 1/PNPS/1965 tentang Penodaan Agama karena dinilai telah bertentangan dengan prinsip toleransi, keragaman, dan pemikiran terbuka, diskriminatif antar agama, membatasi serta bertentangan dengan jaminan kebebasan beragama seperti yang terdapat dalam UUD 1945. Atau lebih tepatnya  Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 tentang Penodaan Agama bertentangan dengan HAM (Hak Asasi Manusia).
Terang saja permintaan yang terkesan dipaksakan dan diada-adakan ini mengundang protes dari berbagai kalangan dan tokoh Islam. Tidak hanya itu saja penolakan juga datang dari kalangan atau golongan non Islam, sekalipun maksud dan tujuan mereka berbeda.
Dari pihak Islam sebut saja Menteri Agama Suryadharma Ali, dimana beliau juga mewakili pihak pemerintah, mengatakan bahwa pencabutan UU Penodaan Agama seperti yang diupayakan sejumlah LSM melalui uji materi kepada Mahkamah Konstitusi bila dikabulkan maka berpotensi menimbulkan keresahan dan kekacauan di masyarakat (sebagaimana yang diberitakan dalam situs ANTARA, 4 Februari lalu).
"Jika hal terkait penodaan agama tidak diatur, maka dikhawatirkan dapat menimbulkan konflik horizontal, memicu keresahan dan disintegrasi bangsa.” Beliau  juga menegaskan, bila di Indonesia tidak terdapat UU Pencegahan Penodaan Agama maka hal itu juga akan menimbulkan hilangnya jaminan perlindungan hukum dari pemerintah terhadap berbagai agama di Tanah Air. Apalagi, bila pencabutan UU tersebut dilakukan maka seseorang atau sekelompok orang juga bisa bebas untuk menodai ajaran agama tanpa terkena hukuman apa pun.
Kemudian dalam situs yang sama, Sekretaris Umum Majelis Tinggi Agama Konghucu (Matakin) Uung Sendana dari golongan non Islam mengatakan, UU Penodaan Agama jangan dicabut sebelum adanya UU baru yang benar-benar bisa menghargai keberadaan agama-agama minoritas di Tanah Air.
"Kami menolak pencabutan UU Penodaan Agama sebelum diterbitkan undang-undang baru yang menghargai hak-hak agama yang jumlah pemeluknya sedikit," kata Uung dalam sidang uji materi UU Penodaan Agama No 1/PNPS/1965 di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK) di Jakarta, Rabu. Karena menurut dia jika UU tersebut dicabut maka yang akan menderita adalah mereka atau agama lain yang memiliki pengikut dengan jumlah yang sedikit.
Namun tidak begitu dengan Pdt Rinaldy Damanik. Pendeta agama Kristen Protestan dari Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng) ini setuju dengan dirubah atau dicabutnya UU Nomor 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penodaan Agama dan mengatakan, undang-undang itu tidak diperlukan jika semua umat sadar dalam beragama.
"Penodaan terhadap agama itu tidak akan terjadi kalau semua umat beragama sadar. Semua agama kan menganjurkan perdamaian." Damanik juga mengatakan, UU penodaan agama yang sedang diuji materikan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) tersebut hingga kini masih ngambang karena bagian mana saja yang akan direvisi belum tersosialisasi dengan baik. Mantan terpidana konflik kerusuhan Poso itu mengatakan, terjadinya kekacauan baik internal umat beragama maupun antar umat beragama karena masih lemahnya pemahaman terhadap substansi agama (ANTARA, 12 Februari).
Tentu saja apa yang mereka lakukan ini adalah salah satu bentuk penyerangan tersembunyi terhadap kehidupan beragama. Karena jujur saja, apabila UU mengenai penodaan agama itu dirubah atau bahkan dicabut tentu akan menyebabkan suburnya pertumbuhan berbagai kelompok atau sekte yang membawa ajaran baru atau kelompok yang mendakwahkan agama yang sama tapi dengan versi baru. Semisal Lia Eden dengan agama Salamullah nya, Ahmadiyah, atau yang terbaru yaitu ajaran AKI (Amanat Keagungan Ilahi) di Sumsel, atau aliran Satria Piningit Weteng Buwono yang menyuruh pengikutnya melakukan seks bebas layaknya suami istri sebagai bentuk bukti kesetiaan mereka terhadap ajaran. Dan terlebih lagi, jika pencabutan UU itu benar-benar terjadi, sudah dapat dipastikan, yang paling keras tepuk tangannya tentulah dari kelompok JIL dan kelompok liberal sekuler lainnya beserta para sarjana Islam yang satu fikrah dan “satu jurusan” dengan mereka. Karena tidak akan ada lagi pijakan hukum yang kuat yang akan merintangi jalan mereka dan secara tidak langsung juga akan menjadi semacam pe-legitimasi-an dan pengukuhan keberadaan kelompok dan pemikiran mereka yang sesat dan menyesatkan itu di bumi Indonesia.
Namun, terlepas dari pro dan kontra berbagai pihak tentang perubahan atau pencabutan Undang-Undang mengenai penodaan agama ini tentu kita mesti tahu dan menyadari bahwa ada satu skenario besar yang sedang dirancang di Indonesia untuk menghancurkan Islam. Untuk mematikan pergerakan agama yang terbesar pemeluknya di Indonesia ini. Karena sudah menjadi rahasia umum bahwa sekarang adalah zamannya globalisasi, zaman dimana Barat begitu mendominasi hampir di seluruh lini kehidupan, zaman dimana kebebasan menjadi idola dan dijunjung tinggi. Zaman dimana orang merasa bebas dan merasa boleh melakukan apa saja. Zaman dimana muncul disana-sini berbagai macam ulama karbitan yang mengaku-ngaku sebagai pemikir, cendekiawan dan pembaharu dalam Islam, kemudian dengan berlindung di balik baju HAM berusaha mempengaruhi dan menanamkan pemikiran yang mereka dapatkan dari Barat dan berusaha merombak agama yang seharusnya dilindungi dan diperjuangkan. Berbagai cara akan mereka upayakan agar niat dan maksud tercapai. Salah satunya adalah desakan kepada Mahkamah Konstitusi agar merubah atau mencabut  UU Nomor 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penodaan Agama ini.
Kita sebagai du’at yang nanti akan terjun ke tengah-tengah masyarakat mau tidak mau atau suka tidak suka akan berhadapan dengan mereka dan sebagai individu muslim kita harus benar-benar memahami pola fikir mereka, memahami pergerakan dan maksud dari setiap hal-hal yang terjadi di dunia perpolitikan Indonesia yang berbau agama. Para “pemikir dan pembaharu” yang dengan retorika mereka dalam berbicara, dengan kecerdasan yang mereka miliki mampu “melantunkan” dalil-dalil baik itu dari Al Quran ataupun Hadist Nabi shallalloohu ‘alaihi wassalam kemudian mempengaruhi pemikiran para pemuda/i terutama dari kalangan pelajar dan mahasiswa umum yang belum begitu paham atau mereka yang setengah-setengah dalam memahami agama mereka sendiri. Untuk itu persiapan baik ilmu, mental serta kesabaran sangat dibutuhkan dalam menghadapi “musang berbulu ayam” yang satu ini, baik itu di dalam maupun di luar forum nantinya.
Wallahu a’lam

www.bemiyaman.web.id

Peranan Dan Tanggung Jawab Pemuda Muslim

Penulis: Abu Yasmin

Pendahuluan
Tidak bisa kita pungkiri bahwa  seorang pemuda sangat di harapkan keberadaannya dan kiprahnya oleh semua kalangan baik itu kalangan muslim ataupun non muslim,  Bahkan dalam pertarungan perpollitikan internasional pun sang pemuda sangat memegang peranan penting dalam mengadakan suatu perubahan,  baik perubahan itu dari yang baik kepada yang tidak baik ataupun sebaliknya.Pemuda adalah sosok yang tidak pernah luput dari sorotan dunia,  cikal bakal generasi yang akan menjadi gambaran dunia pada masa depan. Selamat dan majunya sebuah Negara atau peradaban adalah karena bagusnya para pemuda yang hidup pada zaman itu.

Pemuda yang bertalenta selalu didambakan dari generasi ke generasi,  karena dari sanalah mereka akan membangun dan mengukir sebuah prestasi yang akan dicatat oleh sejarah.
Semenjak belasan abad yang lalu Al-Quran sudah banyak menggambarkan peranan sosok seorang pemuda yang penuh tanggung jawab dalam menegakan kalimat tauhid dan menebarkan sebuah kebenaran dan bersabar dalam menghadapi segala rintangan. Karena masa muda adalah tahap kehidupan yang penuh kekuatan dan bertenaga,  umur pertengahan,  sedangkan pertengahan segala sesuatu adalah yang terbaik. Laksana matahari berada di tengah-tengah langit,  masa paling panas dan paling hangat. Masa remaja dan masa muda merupakan masa kehidupan potensi,  penuh tenaga dan sangat berharga.

Berikut ini contoh sosok pemuda yang Allah abadikan kisahnya dalam Al-Quran.
1. Kisah Ashab Al-Kahfi
Firman-Nya:
“Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya, sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan kami tambahkan kepada mereka petunjuk.”  (QS: Al-Kahfi: 13).
2.  Kisah penghancur berhala
Firman-Nya:
"Mereka berkata,  kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim. " (QS: Al-Anbiya:  60).
3. Pengorbanan nyawa (yaitu Nabi Ismail Alaihissalam)
Firman-Nya:
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, "Ibrahim berkata: hai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku bahwa sesungguhnya aku menyembelihmu,  maka fikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab,  hai Bapakku,  kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu;  insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. " (QS:  Al-Shaffat: 102). 4. Menolak rayuan seorang wanita bangsawan nan jelita.
Firman-Nya:
"Yusuf berkata: Wahai tuhanku,  penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku,  dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka,  maka tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh." (QS:Yusuf: 33.Itulah para pemuda,  itulah kedudukan mereka dan begitulah seharusnya sikap mereka!! “Rosulullah pernah bersabda ada 7 golongan yang akan mendapatkan naungan Allah SWT di mana tidak ada naungan selain naungan Allah SWT diantaranya adalah seorang laki-laki yang digoda oleh seorang perempuan yang punya kedudukan  dan punya rupa yang cantik tapi dia mengatakan saya takut kepada Allah”.  Subhanallah…biasanya kalau kita lihat orang yang mendapat godaan wanita dan yang menggoda wanita adalah para pemuda bukan yang sudah kakek-kakek, makanya tidak heran kalau yang meramaikan acara valentine day beberapa minggu lalu bisa kita katakan lebih dari 95 persen adalah dari kalangan ABG dan pemuda.
Diantara 7 golongan yang akan mendapatkan naungan Allah di akhirat nanti adalah pemuda yang senantiasa terpaut hatinya dengan masjid. Mengapa dalam hadits ini hanya dikhususkan pemuda?  karena memang pada masa-masa inilah kebanyakan mereka menghabiskan waktunya untuk hura-hura, mengumbar hawa nafsunya dalam kesenangan dunia yang sesaat.  Maka sangatlah wajar jika ada diantara pemuda yang hatinya selalu terpaut dengan masjid mendapatkan naungan Allah SWT di akhirat nanti.

Pemuda diantara dua kubu
Perseteruan antara haq dan bathil tak pernah padam sejak zaman Nabi  Adam sampai akhir zaman nanti.  Dan actor utama dalam perseteruan ini adalah para pemuda, tidak heran kalau musuh-musuh islam berusaha sekuat tenaga menjauhkan generasi mudanya dari ajaran islam yang sebenarnya, bahkan mereka rela menafkahkan hartanya milyaran dolar untuk menghalang-halangi orang-orang yang berjuang di jalan Allah. Salah satu contoh mereka tidak suka kalau pemuda muslim mempelajari ajaran islam yang sebenarnya dengan alasan teroris dan lain sebagainya. Mereka tidak suka kita mempelajari agama kita sendiri, padahal kita tidak pernah melarang mereka mendalami agama mereka sendiri.  Tapi seperti itulah kondisinya seakan-akan mereka lebih tahu tentang islam daripada orang islam itu sendiri.
Allah berfirman dalam Surat Al-Anfal yang artinya: ”sesungguhnya orang-orang kafir itu menafkahkan harta mereka untuk menghalang-halangi orang dari jalan Allah, mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka jahannamlah orang-orang kafir itu dikumpulkan.”
Tarik-menarik antara kubu yang haq dan yang bathil akan terus berjalan seiring dengan berjalannya waktu, dan ini adalah merupakan sunnatullah walaupun pada akhirnya yang haq lah yang akan muncul sebagai pemenang.
Pemuda adalah agen perubah zaman (Agen of change). Ini telah dibuktikan oleh sejarah,  terutamanya sejarah Islam. Di tangan para pemuda Islamlah dunia jahiliyah runtuh dan digantikan dengan dunia mengenal Islam.
Sekarang apa tugas anda  wahai pemuda muslim? Kita ingin dicatat oleh Allah SWT sebagai bagian dari kebangkitan ummat ini yang membawa panji-panji risalah, mampu membuktikan dan menampilkan wajah islam yang rohmatan lil’alamin membawa kedamaian untuk seluruh ummat manusia.

Tugas Seorang Pemuda Muslim
Ada beberapa tugas yang harus kita laksanakan sebagai pemuda muslim diantaranya:
Pertama : Mempelajari Islam.
Memahami agama yang benar ini adalah tugas yang pertama yang harus kita laksanakan, kesempatan yang ada pada kita sekarang ini harus kita pergunakan sebaik-baiknya, jangan sampai waktu terbuang begitu saja tanpa ada faedahnya, karena suatu saat nanti kita akan dimintakan pertanggungjawabannya di depan Allah SWT, masa muda kita untuk apa kita habiskan dan waktu luang kita untuk apa kita pergunakan.
Salah satu ibadah yang paling mulia disisi Allah adalah attafaqquh fiddin,  mempelajari dan memahami agama yang benar sesuai apa yang di ajarkan oleh Rosulullah SAW kepada kita, menjauhkan dari hal-hal yang baru (bid’ah) dalam agama. Munculnya pemikiran-pemikiran yang nyeleneh atau menyimpang dari jalan yang benar karena salah dalam mengambil mashdar talaqqi yang akhirnya membuat fitnah di muka bumi ini, memusuhi satu sama lain bahkan memutuskan hubungan silaturrohim antara sesama ummat islam.
Belajar seharusnya kita jadikan sebagai hoby sebagaimana kita hoby dan suka ke salah satu permainan olahraga .  Main bola contohnya, maksudnya belajar bukan menjadi beban bagi kita, karena memang tujuan kita semua jauh-jauh datang dari Indonesia tidak lain hanya untuk belajar, mari kita renungkan firman Allah SWT yang artinya:
“ Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11).
Mempelajari dan memahami agama itu suatu kewajiban,  menghindari diri agar tidak terjebak ke dalam perkara-perkara haram sedang kita tidak mengetahuinya,  atau menganggap yang halal itu haram, yang sunnah itu wajib dan lain sebagainya. Oleh  karena itu diperlukan bagi kita curahan waktu dan tenaga agar kita bisa memahami dengan benar agama ini.
Seorang salaf as-saleh pernah mengatakan :
" Sesungguhnya ilmu itu tidak akan memberi apa-apa kepadamu sehingga engkau memberikan semua yang ada padamu kepadanya; seluruh tenagamu, waktumu dan dirimu." 
Anda juga saya yakin pernah melihat iklan yang bunyinya:  “don’t just study…study right.”
Kedua: Mengamalkan Islam.
Islam bukan hanya ilmu pengetahuan dan tsaqofah saja, tapi lebih dari itu islam menyuruh kepada pemeluknya untuk mengamalkan apa yang ada di dalam Al-Quran dan As-Sunnah, melaksanakan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya.
Allah swt membuat perumpamaan yang sangat buruk bagi orang yang tidak mengamalkaan ilmunya yaitu seperti himar dan anjing.
Firman-Nya :
" Perumpamaan orang-orang yang dipertanggungjawabkan kepadanya Taurat,  kemudian mereka tidak memikulnya (tidak mengamalkan isinya) adalah seperti keledai (himar) yang membawa kitab-kitab yang tebal. " (QS. Al-Jumu'ah: 5).
Kemunduran ummat islam seperti yang kita rasakan saat ini karena mulai dari pribadi kita sampai ke tingkat pemerintahan jauh dari nilai-nilai islam, maka tidak heran kalau bencana datang bertubi-tubi mulai dari gempa bumi, tanah longsor,  krisis moneter yang tidak ada ujung-ujungnya karena kita betul-betul jauh dari nilai-nilai Al-Quran.  Padahal Allah SWT telah berfirman yang artinya:  “Jikalau penduduk negerri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan dari bumi.” (QS. Al-A’rof : 96). Mengamalkan Al-Quran adalah sebab diturunkannya keberkahan dari Allah swt dalam hidup kita, tanpa mengamalkan semua ini maka akan mendatangkan kerugian baik di dunia maupun di akhirat.
Salah satu kerugian yang kita rasakan di dunia  adalah hilangnya keberkahan dalam hidup, bahkan kehidupan terasa sangat  sempit, kemudian kita selalu akan dijadikan bulan-bulanan oleh musuh-musuh islam dan kita tidak ada kekuatan untuk melawan mereka, karena kita akan kuat ketika kita betul-betul bersama Allah mengamalkan apa yang diperintahkan dan kekuatan itu akan hilang ketika kita jauh dan bermaksiat kepadaNya.
Ketiga : Mendakwahkan Islam.
Tugas dan kewajiban selanjutnya adalah dakwah ilallah. Tugas ini sangat berat, tapi sisi lain sangat mulia di sisi Allah SWT. Dikatakan sangat berat karena memang dalam berdakwah pasti saja ada cobaan, baik dari orang-orang kafir atau dari kalangan munafiqin. Ketika Rosulullah SAW mulai menyebarkan agama islam, mengajarkan kepada kaum quraisy tauhid yang benar, beliau langsung di tuduh macam-macam. Semua perkataan yang buruk dilontarkan kepada Rosulullah SAW, tukang sihir, kahin (dukun), gila dan lain sebagainya.  Begitu juga ketika para rosul sebelum Nabi Muhammad SAW mengajak kaumnya kepada ajaran tauhid, mereka langsung menuduh para nabi dengan mengatakan orang bodoh, orang sesat bahkan banyak diantara nabi-nabi dibunuh oleh kaumnya sendiri.  Sekarang kita temukan tuduhan gaya baru yaitu dengan tuduhan “teroris” . Rakyat Palestina yang membela hak-haknya dari penjajahan Yahudi dianggap teroris.  Dan ini sudah sunnatullah dalam memperjuangkan dan mendakwahkan islam pasti ada tantangannya. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Furqon: “ dan seperti itulah, telah kami adakan bagi tiap-tiap nabi musuh dari orang-orang mujrim. Dan cukuplah Tuhanmu memberi petunjuk dan penolong.”
Yahudi dan antek-anteknya dari kalangan munafiqun tidak pernah bisa tidur nyenyak selagi dakwah islam terus menyebar ke seluruh penjuru dunia. Oleh karena itu mereka bekerja keras memberikan opini yang jelek terhadap islam dengan tuduhan yang tidak ada bukti, bahkan kita juga tau beberapa waktu yang lalu bagaimana mereka membuat gambar karikatur yang menghina Rosulullah SAW dengan tujuan agar dunia membenci dan menjauhi dari islam.  Tapi apa yang terjadi bahkan sebaliknya orang-orang pada ingin tau apa itu islam dan banyak buku-buku tentang islam laku keras dan tidak sedikit akhirnya mereka mengakui bahwa islam itu adalah agama yang benar dan akhirnya mereka masuk islam.  Itulah cahaya Allah yang tidak bisa dihalangi oleh siapapun jika Allah berkehendak.
Firman Allah SWT dalam surat Al-Baroah ayat 32 yang artinya: “ Mereka berkehendak memadamkan cahaya/agama Allah dengan mulut/ucapan-ucapan mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai.”
Banyak ayat-ayat Al-Quran yang memerintahkan mukminin supaya berdakwah, firman-Nya:
" Demi masa! Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,  kecuali yang beriman dan beramal soleh dan saling nasihat-menasihati dengan kebenaran dan kesabaran." (QS. Al-'Asr (103) : 1-3).
Tugas dakwah sangat perlu sifat sabar. Karena dakwah itu merupakan satu tugas yang berat. Tanggungjawab mulia ini meskipun berat adalah warisan pusaka abadi dari Nabi Muhammad SAW, mesti kita laksanakan walau apa pun rintangannya.
Rosulullah SAW pernah bersabda:  “ Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.”
Masuknya islam ke Indonesia adalah hasil jerih payah para duat dan kerja keras mereka, karena tanpa  dakwah tidak mungkin islam sampai ke seantero dunia. Dengan dakwah yang santun akhirnya mereka berhasil memikat hati masyarakat pada masa itu. Tugas kita sekarang sebagai pemuda muslim meneruskan estafet perjuangan dakwah tersebut, kita tunjukkan kepada dunia bahwa islam jauh dari sifat anarkis dan kekerasan. Islam bukanlah agama teroris sebagaimana yang di propagandakan oleh Yahudi dan barat. Dengan demikian kita sudah melaksanakan tugas kita yang mulia ini dan merupakan salah satu amalan yang paling baik di sisi Allah SWT.
Firman-Nya:
"Dan siapakah yang lebih baik perkataannya diantara orang yang mengajak ke jalan Allah dan melakukan amal soleh serta mengatakan; sesungguhnya aku termasuk oarang-orang yang menyerah diri kepada Allah'?. " (Qs. Fushshilat: 33).

Kesimpulan
Inilah beberapa tugas yang bisa kita lakukan untuk berkhidmah kepada masyarakat, bangsa dan agama. Semua itu akan mudah dilakukan kalau ada kemauan yang tinggi (himmah ‘aliyah) dan tentunya senantiasa dengan berdoa agar kita para pemuda muslim diberikan kekuatan  oleh Allah SWT untuk meneruskan perjuangan para salafussholeh dalam menyebarkan risalah islam. Senantiasa diberikan kesemangatan dalam tafaqquh fiddin dan mengamalkannya.  Allhummasta’milnaa walaa tastabdilnaa.
Wallahu a’lam.

www.bemiyaman.web.id